LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

29 Jun

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TERNAK

 
   

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Arif Nurrohman

23010111120050

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN S-1 PETERAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012
LEMBAR PENGESAHAN

Judul                           : LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

Nama                           : ARIF NURROHMAN

NIM                            : 23010111120050

Kelompok                   : VIIIA (DELAPANA)

Jurusan                        : S1 – PETERNAKAN

Tanggal Pengesahan    :       Mei 2012

 

 

 

Menyetujui,

 

Koordinator Praktikum

 

 

 

 

Dr. Ir. Isroli, M.P.

NIP. 19580502  197603 1 002

Asisten Pendamping

 

 

 

 

Rodliyya Yudha Murti

NIM. 23010110130172

 

RINGKASAN

ARIF NURROHMAN. 23010111120050. 2012. Laporan Praktikum Fisiologi Ternak. (Asisten : RODLIYYA YUDHA MURTI).

 

Praktikum Fisiologi Ternak dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2012, pukul 13.00-15.00 dan 12 Mei 2012, pada pukul 07.00-09.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Praktikum Fisiologi Ternak bertujuan dapat melakukan pembuatan preparat apus darah, dapat menghitung jumlah eritrosit, dapat menghitung jumlah leukosit, dan bisa mengukur kadar hemoglobin pada darah ayam.

Materi yang digunakan dalam praktikum antara lain bahan yang digunakan adalah darah  ayam, metanol, pewarna giemsa, alkohol 70%, aquades, minyak emersi, larutan Hayem, larutan Turk, dan larutan HCl 0,1 N. Alat-alat yang digunakan adalah spuit 3 cc, gelas objek, pipet tetes, mikroskop, pipet tetes, bilik hitung Improved Neurbauer, hand counter, junetsky dan Hemometer Asistent dari Doppelfanbstab. Metode pada pembuatan preparat apus darah membersihkan dua kaca objek menggunakan alkohol 70%, mengambil satu tetes darah dan meneteskannya pada kaca objek. Pada perhitungan jumlah eritrosit dan leukosit yaitu dengan mengisap darah dengan pipet eritrosit dan leukosit, melepas karet pada pipet dan memutarkannya sampai tercampur, membuang cairan yang bukan darah, meneteskan pada kamar hitung Neubauer, mengamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x, menghitung jumlah eritrosit dan leukosit pada bilik hitung Neubauer. Pada pengukuran kadar hemoglobin mengisikan 0,1N HCl pada tabung reaksi, menghisap darah dengan pipet hemoglobin, mengaduk dan menunggu 3 menit, memasukan tabung sahli ke dalam blok komparator, melakukan pengenceran aquades pada larutan darah, membaca tinggi permukaan cairan dalam tabung pengukur. Pada penetapan hematokrit yaitu, mengisi tabung mikrokapiler dengan darah, memasukan tabung kapiler ke dalam sentrifuse, memusingkan selama 5 menit, membaca nilai hematrokit dengan grafik khusus.  

      Hasil pembuatan preparat apus darah ayam adalah tardapat butiran-butiran darah yaitu eritrosit, hemoglobin, dan plasma darah. Pengukuran kadar hemoglobin darah ayam diperoleh rata-rata kadar hemoglobin sebesar 9,2 g/ml, pada pengamatan penetapan nilai hematokrit diperoleh rata-rata hasil nilai hematokrit sebesar 20%, perhitumgan jumlah eritrosit diketahui jumlah eritrositosit sebanyak 1.900.000 buah eritrosit dan pada perhitungan jumlah leukosit didapatkan jumlah leukositsit sebanyak 7.775 buah leukosit.

 

Kata kunci: apus darah, hemoglobin, hematokrit, eritrosit, dan leukosit

BAB I

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1.Apus Darah

Berikut ini adalah hasil pengamatan membuat preparat apus darah ayam:

 

   

                Perbesaran 40 x                                     Perbesaran 1000 x

Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2012.

Ilustrasi 1. Pengamatan Preparat Apus Darah Ayam

Keterangan :          1. Eritrosit

                        2. Plasma darah

                        3. Hemoglobin

Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x dan 1000 x, dimana pada perbesaran 40 bagian eritrosit lebih terlihat dan lebih jelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Subowo (2009) yang menyatakan bahwa dalam seiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit, oleh karena itu pada sediaan darah yang tampak paling menonjol adalah sel eritrosit. dimana pada perbesaran 1000 x ditambahkan minyak imersi, terlihat bagian dalam darah yaitu sel-sel darah yaitu eritrosit hemoglobin dan plasma darah. Plasma darah memiliki darah berwarna kuning, hal ini sesuai dengan pendapat yang dinyatakan oleh Pearce (1995) plasma darah adalah cairan berwarna kuning yang dalam alkali bersifat sedikit alkali dan ,memiliki fungsi sebagai medium untuk penyaluran makanan, mineral, minyak, glukose, dan asam amino ke jaringan dan juga meiliki fungsi sebagai medium untuk mengangkat bahan buangan seperti urea, asam urat, dan karbondioksida.

 

1.2.Pengukuran Kadar Hemoglobin

            Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil sebagai berikut :

  Tabel 1. Hasil pengamatan pengukuran kadar hemoglobin

Jenis Darah

Kadar Hemoglobin (g/ml)

Darah Ayam

9

Darah Ayam

9,4

Rata-rata

9,2

  Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2012.

Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa pada praktikum penentuan kadar hemoglobin menunjukkan bahwa kadar hemoglobin darah ayam sebesar 9,2% Sahli. Kadar tersebut sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kadar Hb ayam normal adalah 8–13 % Sahli. Hasil pengamatan kadar Hb pada darah ayam tersebut menunjukkan bahwa kadar darah ayam berada pada kisaran normal, berarti ayam dalam keadaan sehat dan sedang tidak terjangkit suatu penyakit dan gangguan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Guyton (1989) bahwa jumlah dan persentase hemoglobin dalam sel terletak dalam kisaran normal saat sehat, dan tidak akan meningkat melampaui batasan tersebut kecuali terdapat gangguan metabolik tubuh. Apabila pembentukan hemoglobin dalam sum tulang berkurang, maka persentase hemoglobin dalam sel dapat turun sampai 15 gram persen atau kurang.

 

1.3.Penetapan Nilai Hematokrit

Berikut ini adalah hasil penetapan nilai hematokrit darah ayam:

Table 2. Penetapan Nilai Hematokrit

Jenis darah

Nilai Hematokrit (%)

Darah ayam

20 %

Darah ayam

20 %

Rata-rata

20 %

Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak 2012.

Berdasarkan hasil praktikum menunjukkan bahwa uji dilakukan sebelum menentukan nilai hematokrit dalam darah ayam mulai dari mengisi tabung hematokrit, melakukan sentrifusi hingga mendapatkan hasilnya secara langsung meggunakan grafik atau alat khusus. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa penetapan nilai hematokrit dilakukan dengan cara mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar tidak menggumpal, kemudian dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal di bagian dasar. Nilai hematokritnya kemudian dapat diketahui secara langsung ataupun secara tak langsung dari tabung itu. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa hasil rata-rata kadar hematokrit darah ayam sebesar 20%, kadar tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Guyton (1989) yang menyatakan bahwa penentuan hematokrit ayam normal adalah 40-45%. Rendahnya kadar hematokrit atau Packed Cell Volume ini menandakan bahwa darah yang digunakan dalam praktikum sedang dalam keadaan tidak segar, karena kurangnya suplai oksigen dalam darah di dalam tubuh ayam.

1.4.Perhitungan Jumlah Leukosit

Berikut ini adalah hasil perhitungan jumlah leukosit dalam bilik hitung :

143

 

162

 

Bilik Eritrosit

 

152

 

165

Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2011.

Ilustrasi 2. Bilik Hitung Improve Neubauer Leukosit

4 x 10/4 x 20 x 622  = 7.775

16

 

Jumlah leukosit (L) = 143 + 162 + 152 + 165 = 622

 
   

 

 

Berdasarkah hasil praktikum didapatkan hasil jumlah leukosit sebanyak 7.775 buah leukosit. Hal ini sesuai dengan pendapat Pearce (1995) yang menyatakan bahwa dalam setiap milliliter kubik darah terdapat 6000 sampai 10.000 (rata-rata 8.000) sel darah putih. Sel darah putih atau leukosit tidak berwarna, bersifat bening dan bentuknya tidak tetap seperti amoeba. Jumlah sel leukosit dibawah eritrosit dan bervariasai tergantung dari jenis hewannya dan mengalami fluktuasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Dellmann dan Brown (1989) yang menyatakan bahwa fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya stress, aktifitas fisiologis, gizi, umur dan lain-lain.

1.5.Perhitungan Jumlah Erithrosit

Berikut ini adalah hasil perhitungan jumlah erithrosit dalam bilik hitung:

39

 

 

 

36

 

 

 

 

 

 

 

40

 

 

 

 

 

 

 

39

 

 

 

36

Sumber : Data Primer Praktikum Fisiologi Ternak, 2011.

Ilustrasi 3. Bilik Hitung Improve Neubauer Leukosit

 

Jumlah eritrosit (E)  =  39 + 36 + 40 + 39 + 36 = 190

50 x 200 x E = 10.000 x E = 10.000 x 190 = 1.9000.000 buah erithrosit

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data jumlah eritrosit dari darah ayam sebanyak 1.900.000 buah eritrosit yang menunjukkan bahwa ayam dalam kondisi kurang baik karena jumlah eritrosit dibawah standar yaitu sekitar 2,0-3,2 x 106/mm3. Hal ini sesuai dengan pendapat Mangkoewidjojo dan Smith (1988) yang menyatakan bahwa kadar normal jumlah eritrosit pada ayam adalah 2,0-3,2 x 106/mm3. Eritrosit akan rusak jika masa tumbuhnya lebih dari 120 hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Dellmann dan Brown (1989) yang menyatakan bahwa secara normal jangka hidup eritrosit berkisar antara 120 hari, setelah jangka hidupnya habis maka akan rusak dan dikeluarkan dari peredaran darah. Eritrosit tua biasanya hancur dalam limpa, sum-sum tulang dan hati. Zat besi dari hemoglobin dirombak dan digunakan untuk membentuk eritrosit baru.

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

3.1.      Simpulan

Darah terdiri dari sel darah dan plasma, yang meliputi eritrosit, leukosit dan trombosit. Fungsi darah yaitu sebagai transport dari bahan yang larut, penghantar sinyal, penyangga atau buffer, pertahanan dan mempunyai peranan masing-masing. Jumlah leukosit ayam sampel berada di bawah normal. Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi karena pengaruh fisiologis dan patologis yang dapat disebabkan oleh proses respon terhadap gangguan penyakit. Jumlah eritrosit yang rendah pada ayam sampel kemungkinan disebabkan karena adanya penyakit, dalam hubungannya dengan fungsi eritrosit sebagai pengangkut oksigen. Kadar hemoglobin pada ayam rendah yang kemungkinan disebabkan karena kondisi lingkungan dan ransum yang deberikan. Nilai hematokrit pada ayam rendah. Nilai hematokrit dapat depengaruhi oleh status gizi, jenis kelamin, umur dan aktivitas fisik.

 

3.2.      Saran

Tempat laboratorium sebaiknya diberikan fasilitas yang lebih memadai agar dalam proses praktikum. Fasilitas seperti air keran diharapkan ada untuk menunjang kegiatan praktikum yang akan berlangsung. Hendaknya juga ada perluasan tempat praktikum yang bertujuan agar praktikan nyaman dan teratur.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dellmann, H. D., Esther, M. B., 1989. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia Press

 

Frandson R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.

 

Guyton, A.C., 1989. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

 

Mangkoewidjojo, S. dan J. B. Smith. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

 

Pearce, E., 1995. Anatomi dan Fisiologis Untuk Paramedis. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

 

Subowo. 2009. Histologi Umum. Jakarta, Sagung Seto.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 166 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: