Enzim Pepsin dan Alestorik

5 Apr

ENZIM PEPSIN

Pepsin adalah suatu enzim yang berguna untuk memecah molekul protein menjadi molekul yang lebih kecil yaitu pepton dan proteosa. enzim pepsin ditemukan pertama kali oleh Theodor Schwann pada tahun 1836. Dirinya menamai zat tersebut dengan pepsin karena terinspirasi oleh bahasa yunani “pepsis” yang berarti pencernaann. Selanjutnya pada tahun 1929 pepsin menjadi enzim pertama yang berhasil dikristalkan. Tokoh yang berjasa dalam proses kritalisasi ini adalah John H. Northrop.

Pepsi merupakan enzim paling efesien dalam memecah ikatan antara peptida hidrofobik dan asam amino aromatik, seperti felilalanin, triptofan dan tirosin.meskipun demikian, proses pemecahan protein didalam lambung membutuhkan waktu yang lama, hingga sekitar 30% dari total waktu pencernaan makanan.

Enzim pepsin ini dihasilkan oleh sel-sel utama lambung dalam bentuk pepsinogen, yaitu calon enzim yang belum aktif. Nama umum untuk calon enzim adalah zimogen. Pepsinogen ini diubah kemudian menjadi pepsin yang aktif dengan adanya asam HCl, sedangkan pepsin yang terjadi dapat menjadi katalis dalam reaksi perubahan pepsinogen menjadi pepsin (otoktalis). Asam klorida menciptakan lingkungan yang asam, hal ini memungkinkan strktur pepsinogen tersingkap dan terbelah dengan sendirinya sehingga menghasilkan enzim bentuk aktif. Pepsing menampilkan fungsi terbaiknya ketika kondisi lingkungan sekitar sangat asam, dengan pH antara 1,5 hingga 2. Pepsin akan mengalami denaturasi jika pH lebih dari 5.0.enzim pepsin dapat bekerja optimal pada suhu 37 derajat hingga 40 derajat celsius dalam tubuh manusia. Pepsin memiliki kemingkinan dihamat oleh inhibitor peptida lain yaitu pepstatin.

Pepsinogen mempunyai bobot molekul sebesar 42.500, sedangkan bobot molekul pepsin ialah 34.500. ini berarti bahwa pada proses pengaktifan pepsinogen menjadi pepsin ada bagian molekul pepsinogen yang terpisah.  Dengan terpisahnya sebagian molekul pepsinogen tersebut, terbentuk pepsin yang aktif. Jadi bagian yang terpisah itu semula menutupi bagian aktif enzim. Dengan terbentuknya bagian aktif enzim, maka dapat terjadi kontak antara substrat dengan enzim sehingga terbentuk kompleks enzim-substrat yang lebih lanjut akan membentuk hasil reaksi.

Pepsin merupakan katalis untuk reaksi hidrolisis protein dan membentuk pepton dan proteosa yaitu polipeptida yang lebih kecil daripada protein. Pemecahan molekul protein oleh pepsin ini  terjadi pada ikatan:

……..    glutamil -/-  tirosil        ………

……..    glutamil -/- fenil alanil …….

……..    sisteinil -/- tirosil          ………

Pepsin juga dapat mengumpulkan susu. Kasein yang terdapat dalam susu diubah menjadi parakasein oleh ion  , baru kemudian terjadi pemecahan

Setelah diisolasi, pepsin harus disimpan pada suhu ruangan yang sangat dingin antara minus 20 hingga minus 80 derajat celsius untuk mencegah struktur enzim pepsin mengalami denaturasi autolisis atau pembelahan sel otomatis (self cleavage). Peristiwa autolisis ini sebenarnya dapat dihindari dengan menyimpan pepsin pada pH 11. Kketika pH dikembalikan pada tingkat keasaman 4, pepsin akan bekerja seperti sedia kala.

Perkembangan ilmu biokimia terkini menyebutkan bahwa saat ini penggunaan pepsin tidak hanya sebagai pemecah ikatan peptida dalam makanan. Pepsin saat ini lebih banyak diteliti untuk digunakan sebagai salah satu zat penyusun antibodi buatan, hasil rekayasa gentika, untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia.

Daftar Pustaka

Poedjiadi, Anna dan Supriyanti, F.M. Titin. 2007. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia Press

http://www.anneahira.com/pepsin.htm

ALESTORIK HOMOTROPIK

Beberapa enzim bebentuk mirip hemoglobin, yaitu mempunyai lebih dari satu unit subunit yang saling berinteraksi secara kooperatif sehingga dapat memberikan tanggapan yang lebih kompleks terhadap perubahan kadar substrat. Bila subunit-subunit yang berinteraksi ini identik, sedangkan masing-masing subunit memiliki tempat katalitik tersendiri, maka kinetika yang dihasilkan dikatakan bersifat homotropik. Bila interaksi antar subunit adalah sedemikian sehingga pengikatan satu molekul substrat mempermudah pengikatan molekul-molekul substrat berikutnya maka dikatakan bahwa enzim menunjukkan kooperativitas positif, maka tanggapan kinetik enzim terhadap perubahan kadar substrat akan berupa kurva sigmoid, sangat mirip dengan kurva pengikatan oksigen pada hemoglobin. Bila tidak ada interaksi antar subunit maka enzim akan menghasilkan kurva Michaelis-Menten biasa. Laktat dehidrogenase merupakan contoh enzim seperti ini. Kooperativitas dapat pula bersifat negatif, yaitu bila pengikatan satu molkeul substrat mempersulit pengikatan molekul-molekul substrat berikutnya. Interaksi kooperatif positif dan negatif dapat dibedakan karena menghasilkan kurva yang berbeda.

Arti Isiologis, suatu enzim yang menunjukkan interaksi homotropik positif tak dapat secara efektif mengkatalisis reaksi sampai kadar substrat ditingkatkan mencapai bagian curam dari kurva yang menunjukkan hubungan kecepatan dan kadar. Ini merupakan cara yang dikehendaki untuk mencegah suatu substrat menjadi habis bila substrat tersebut mengalami beberapa reaksi yang dikatalisis oleh enzim yang berbeda, atau bila substrat tersebut diubah menjadi produk secara irreversibel. Laju reaksi dengan cepat turun mendekati nol walaupun kadar substrat masih jauh diatas nol.

ALESTORIK HETEROTROPIK

Sejumlah enzim yang mengandung subunit-subunit yang berinteraksi secara kooperatif dapat pula dikendalikan oleh efektoryang mengikat enzim pada tempat yang berbeda dengan tempat pengikatan substrat. Perubahan konformasi enzim keudian terjadi, karena perubahan kadar efektor pengendali maupun karena perubahan kadar substrat. Suatu senyawa bila berikatan dengan enzim mempengaruhi pengikatan substrat disebut efektor heterotropik. Efektor heterotropik mengubah kurva sigmoid yang disebabkan oleh interaksi homotropik kooperatif. Efektor heterotropik umumnya mempengaruhi  yang tampak tanpa menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap  Tetapi ada pula yang pengaruhnya justru sebaliknya. Efektor yang mengaktifan enzim (eektor positif) mengurangi interaksi homotropik. Sifat sigmoid kurva semakin berkurang bila kadar efektor positif semakin tinggi, sehingga akhirnya kurva berbentuk hiperbola biasa. Sebliknya efektor yang menghambat enzim (efektor negatif) meningkatkan interaksi homotropik sehingga kurva menjadi lebih sigmoid. Tempat pengikatan efektor bahkan tidak perlu terletak pada subunit yang sama dengan subunit tempat pengiktan substrat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: