19 Apr

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM BIOKIMIA

Oleh:
Kelompok V
Asisten Ganang

Arif Nurohman (23010111120050)
Ardian Ozzy Wianto (23010111120007)
Ghina Meriyana Dewi (23010111120036)
Ridha Pramesthi (23010111120043)
Siti Aminah (23010111140250)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN
Lipid merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicirikan oleh sifat kelarutannya. Lipid tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, seperti eter. Lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan dengan pelarut organik. Sifat kelarutan ini membedakan lipid dari tiga golongan utama lain dari produk alam lainnya, yaitu karbohidrat, protein, dan asam nukleat, yang pada umumnya tidak larut dalam pelarut organik. Struktur kimia lipid dapat sangat beragam, sekalipun sifat kelarutannya mirip.
Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut didalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform, atau eter. Jenis lipida yang paling banyak adalah lemak atau triasilgliserol yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme.
Tujuan dari praktikum biokimia dengan materi pencernaan lemak untuk mengetahui pencernaan lemak oleh ekstrak pankreas. Manfaat praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mengetahui minyak sebagai salah satu zat yang mengandung lemak atau termasuk lemak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Lemak
Lipid merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicirikan oleh sifat kelarutannya (Hart and et all, 2003). Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut didalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform, atau eter (Lehninger, 2000). Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga tubuh manusia selain itu lemak dan minyak juga merupakan sumber energi yang lebih efektif dibanding dengan karbohidrat dan protein (Winarno, 1991).
Klasifikasi Lemak
Senyawa-senyawa yang termasuk lipid ini dapat terbagi dalam beberapa golongan, ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni :1.) lipid sederhana yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserilda dan lilin (waxes). 2.) Lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan contohnya fosfolipid, serebrosida. 3.) Derivat lipid yiutu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidro plisis lipid contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol (Poedjiadi dan Supriyanti, 2006).
Lipid yang paling sederhana dan paling banyak mengandung asam lemak sebagai unit penyusun adalah triasilgliserol, juga sering kali dinamakan lemak, lemak netral, atau trigliserilda. Triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Gliserol adalah komponen utama dan lemak penyimpan atau depot lemak pada sel tumbuhan dan hewan, tetapi umumnya tidak dijumpai pada membran (Lehninger, 2000).
Lipid dibagi dalam beberapa golongan berdasrkan kemiripan struktur kimianya, yaitu 1.) asam lemak, 2.) lemak, 3.) lilin, 4.) fosfolipid, 5.) sfiongolipid, 6.) terpen, 7.) steroid, 8.) lipid kompleks (Poedjiadi dan Supriyanti, 2006).
Pembentukan Lemak Secara Alami
Hampir semua bahan pangan banyak mengandung lemak dan minyak, terutama bahan yang berasal dari hewan. Lemak dalam jaringan hewan terdapat pada jaringan adiposa. Lemak pada tanaman disintesis dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang terbentuk dari kelanjutan oksidasi karbohidrat dalam proses respirasi. Proses pembentukan lemak dalam tanaman dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pembentukan gliserol, pembentukan molekul asam lemak, kemudian kondensasi asam lemak dengan gliserol membentuk lemak (Winarno, 1991).

Sintesis Gliserol

Pada tanaman terjadi serangkain reaksi biokimia, pada reaksi ini fruktosa difosfat diuraikan oleh enzim aldosa menjadi dihidroksi aseton fosfat, kemudian direduksi menjadi α gliserol fosfat. Gugus fosfat dihilangkan melalui proses fosfolirasi sehingga akan terbentuk molekul gliserol.

Sintesis Asam Lemak
Asam lemak dapat dibentuk dari senyawa-senyawa yang mengandung karbon seperti asam asetat, asetal dehida, etanol yang merupakan hasil respirasi tanaman sintesi asam lemak dilakukan dalam kondisi anaerob dengan bantuan sejenis bakteri.

Kondensasi Asam Lemak dengan Gliserol

Pada tahap pembentukan molekul lemak ini terjadi reaksi esterifikasi gliserol dengan asam lemak yang dikatalisis oleh enzim lipase. Minyak pangan dalam bahan pangan biasanya diekstraksi dalam keadaan tidak murni dan bercampur dengan komponen-komponen lain yang disebut fraksi lipida. Fraksi lipida terdiri dari minyak atau lemak, malam, fosfolipida, sterol, hidrokarbon, dan pigmen, dengan cara ekstraksi yang menggunakan pelarut lemak seperti petrolium eter, etil eter, benzena, dan klorofrohm komponen-komponen fraksi lipida dapat dipisahkan. Lemak kasar tersebut disebut fraksi larut eter. Untuk membedakan komponen-konponen fraksi lipida dipergunakan NaOH. Minyak atau lemak makan, malam, dan fosfolipida dapat disabunkan dengan NaOH. Sedangkan sterol, hidrokarbon, dan pigmen adalah fraksi yang tidak tersabunkan.

Pencernaan Lemak

Pencernaan senyawa-senyawa triasilgliserol dimulai di dalam usus halus, kedalam organ inilah zimogen prolipase dikeluarkan oleh pankreas, di dalam usus halus tersebut, zimogen kemudian diubah menjadi lipase yang aktif, yang dengan adanya garam-garam empedu dan protein khusus yang disebut kolipase mengikat tetesan-tetesan senyawa triasil gliserol dan mengkatalisis pemindahan hidrolitik satu atau dua residu asam lemak bagian luar sehingga dihasilkan suatu campuran asam-asam lemak bebas (sebagai senyawa sabun dengan Na+ atau K+) dan senyawa 2-monoasilgliserol. Sebagian kecil dari senyawa triasil gliserol masih ada yang tetap tidak dihirolsis. Senyawa sabun asam lemak dan senyawa asil gliserol yang tidak terpecahkan diemulsifikasi menjadi bentuk butir-butir halus oleh peristaltis, yaitu suatu gerakkan mengaduk pada usus, dibantu oleh garam-garam empedu dan monoasil gliserol, yang merupakan molekul-molekul amfipatik dan memberikan efek detergen (Lehninger,1994).
Asam-asam lemak dan senyawa-senyawa monoasilgliserol di dalam butir-butir cairan tersebut diserap oleh sel-sel usus, dimana sebagian besar senyawa-senyawa tersebut dirangkai kembali menjadi triasilgliserol. Senyawa-senyawa triasilgliserol tersebut tidak masuk ke dalam pembuluh darah kapiler, tetapi masuk ke dalam lakteal, yaitu kelenjar pembuluh limpa yang kecil didalam vili. Emulsifikasi dan pencernaan lemak di dalam usus halus dimungkinkan dengan adanya garam-garam empedu. Garam-garam empedu manusia yang terutama adalah natrium-glikokolat dan natrium taurokolat, turunan dari asam kolat, adalah empat jenis asam empedu utama yang terdapat dalam jumlah besar. Garam-garam empedu merupakan bahan pengemulsi kuat yang disekresikan oleh hati ke dalam empedu yang selanjutnya mengeluarkan isinya ke bagian atas usus halus. Setelah asam-asam lemak dan senyawa monoasilgliserol dari butir lemak yang teremulsi diserap di dalam bagian bawah usus halus, garam-garam empedu yang membantu proses ini juga diserap kembali. Garam-garam empedu tersebut kembali ke hati untuk kemudian digunakan lagi berkali-kali, dengan demikian garam-garam empedu secara tetap berdaur di antara hati dan usus kecil. Garam-garam empedu sangat penting di dalam penyerapan tidak hanya bagi zat-zat triasilgliserol tetapi juga bagi semua makanan dan lemak yang dapat larut. Apabila terjadi kekurangan dalam penbentukan dan pengeluaran garam-garam empedu yang terjadi pada beberapa penyakit, lemak-lemak yang tidak tercerna dan tidak terserap akan tampak pada tinja, dalam keadaan-keadaan seperti itu vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, A, D, E, dan K tidak terserap secara sempurna dan dapat mengakibatkan kekurangan vitamin A (Lehninger,1994).

Enzim dalam Pencernaan Lemak

Enzim-enzim dalam pencernaan lemak yaitu enzim dari mikroorganisme yang berfungsi mencerna lemak menjadi vitamin B. Lipase yang disekresikan oleh getah lambung dan asam lambung yang berfungsi mencerna lemak menjadi asam lemak gliserol. Steapsin (lipase) dalam duodenum yang berfungsi mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Sekresi empedu (hati) dalam usus halus, mencerna lemak menjadi emulsi lemak (Winarno, 1991).

BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Biokimia dengan materi pencernaan lemak dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 14 April 2012 pada pukul 15.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB bertempat di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
3.1. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum pencernaan lemak adalah tabung reaksi berfungsi untuk menempatkan 2 ml minyak goreng dan ekstrak pankreas. Gelas ukur berfungsi untuk mengukur banyak minyak dan ekstrak pankreazim yang akan dimasukan dalam tabung reaksi. Pipet tetes digunakan mengambil larutan dalam jumlah sedikit. Rak tabung reaksi untuk menempatkan tabung reaksi dengan teratur. Inkubator digunakan untuk memanaskan minyak dan ekatrak pankreaszim dalam suhu 37℃ sesuai dengan suhu tubuh manusia. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain minyak goreng, aquades, larutan ekstrak pankreas, cairan empedu, larutan fenolfetalin (PP) 1% dan larutan NaOH 0,1 N.

3.2. Metode
Metode dalam pencernaan lemak oleh ekstrak pankreas adalah dengan mengambil tiga tabung reaksi dan memberi label pada masing-masing tabung, dan mengisinya. Tabung 1 didisikan dengan 2 ml minyak goreng + 1 ml ekstrak pankreas. Tabung 2 diisikan dengan 2 ml minyak goreng + 1 ml ekstrak pankreas + 3 tetes cairan empedu, dan tabung 3 diisikan dengan 2 ml minyak goreng + 1 ml air.
Masukkan ketiga tabung reaksi tersebut ke dalam inkubator yang bersuhu 37℃, kemudian menambahkan 5 tetes larutan fenolftalein (PP) 1% pada masing-masing tabung. Selanjutnya meneteskan dengan NaOH 0,1 N untuk masing-masing tabung sampai warna larutan berubah menjadi merah muda. Pencernaan lemak terjadi apabila lemak dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol, semakin banyak asam lemak yang dibebaskan semakin banyak larutan NaOH yang dibutuhkan untuk menetralisir larutan tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengamatan Pencernaan Lemak
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan mengenai pencernaan lemak diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Percobaan Lemak
Jumlah NaOH (tetes)
Tabung 1 8 tetes
Tabung 2 11 tetes
Tabung 3 2 tetes
Sumber: Data primer praktikum Biokimia,2012.

Tabung pertama membutuhkan 8 tetes NaOH karena cairan pankreas mengandung natrium bikarbonat yang bersifat basa dan dapat menetralisir dalam proses pencernaan lemak. Lemak terhidrolisis oleh enzin lipase yang terdapat pada cairan pankreas dan terjadi pada usus halus. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardjo (2009) yang menyatakan bahwa asam-asam lemak netral memiliki rantai karbon yang panjang dan tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut lemak. Pelarut lemak yang baik yaitu benzena, kloroform dan dietil eter. Pendapat diatas diperjelas oleh Winarno (1991) bahwa steapsin (lipase) dalam duodenum yang berfungsi mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Tabung kedua membutuhkan 11 tetes NaOH karena cairan empedu berperan sebagai emulsifier lemak, sehingga menjadi suspensi dalam air. Enzim-enzim kemudian memecah suspensi lemak tersebut menjadi komponen-komponennya. Hal ini sesuai dengan pendapat Lehninger (2000) yang menyatakan garam-garam empedu sangat penting di dalam penyerapan tidak hanya bagi zat-zat triasilgliserol tetapi juga bagi semua makanan dan lemak yang dapat larut. Pendapat diatas diperjelas oleh Poedjiadi dan Supriyanti (2006) yang menyatakan garam empedu merupakan komponen utama dalam empedu, dan berfungsi sebagai emulgator yaitu suatu zat yang menyebabkan kestabilan suatu emulsi.
Tabung ketiga membutuhkan 2 tetes NaOH karena lemak tidak dicerna oleh air. Hal ini sesuai dengan pendapat Lehninger (2000) bahwa asam lemak yang umum dijumpai bersifat tidak larut dalam air tetapi dapat dispresi menjadi misel dadalam NaOH encer yang mengubah asam lemak menjadi sabun mempunyai sifat tidak larut dalam air, karena asam lemak tidak terhidrolisis maka hanya sedikit NaOH yang dibutuhkan yaitu 2 tetes. Semakin banyak larutan NaOH yang dibutuhkan untuk menetralisir, semakin banyak pula asam lemak yang di bebaskan. Pendapat diatas diperjelas oleh Poedjiadi dan Supriyanti (2006) bahwa pada rantai hidrokarbon bersifat hidrofob artinya tidak suka air atau tidak mudah larut dalam air.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut didalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform, atau eter. Lipase yang disekresikan oleh getah lambung dan asam lambung yang berfungsi mencerna lemak menjadi asam lemak gliserol. Lipase dihasilkan oleh pankreas. Dengan ditambahkannya suatu cairan empedu terhadap campuran lemak dan pankreas maka akan mempengaruhi penetralisiran, yaitu NaOH yang dibutuhkan sangat banyak karena meluasnya permukaan lemak. Sedangkan lemak dengan air akan sangat mudah ternetralisir karena air bersifat netral dan karena tidak adanya asam lemak yang terbentuk karena tidak ada pankreas yang menghasilkan lipase pankreas.
5.2. Saran
Dalam praktikum diharapkan agar dapat saling bekerja sama dengan para anggotanya dan asistennya, sehingga praktikum dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Hart and et all. 2003. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta. (diterjemahkan oleh Suminar Setiati Achmadi)
Lehninger, Albert L. 2000. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta. Erlanggga. (diterjemahkan oleh Maggy Thenawidjaja)
Poedjiadi, Anna dan Supriyanti. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGT
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta. Gramedia.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pertanyaan Lemak

Tuliskan rumus umum lemak sederhana ( trigliserida ) !
Jawab : O
H2C O C R1
O
H2C O C R2
O
H2C O C R3
Berdasarkan percobaan diatas mana yang pencernaan lemaknya terbaik dan Jawab :
Pencernaan lemak paling bagus adalah pada tabung no 2, karena pada tabung 2 menggunakan ekstrak pankreas, sehingga banyak terdapat NaOH untuk menetralisirnya.
bagaimana reaksi biokimia perubahan lemak ( trigliserida ) menjadi asam lemak dan gliserol ?

Jawab :
O
H2C O C R1
O H2C CH CH2
H2C O C R2 CnH2n+1 – COOH +
O asam lemak OH OH OH
H2C O C R3 gliserol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: