Pencernaan ruminansia, unggas dan non-ruminansia

21 Apr

TUGAS INT

PENCERNAAN UNGGAS, RUMINANSIA DAN NON-RUMINANSIA

 

 

 

 

 

 

 

Di susun oleh:

Kelompok X

Imam Azis Setiawan                         23010111120052

Yuli Miftasari                                    23010111120051

Arif Nurrohman                               23010111120050

Pradhita Putri Raharjo                    23010111120049

Aisyah Nurhajah                               23010111120048

Adella Chintya Maharani                23010111120037

 

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

PENCERNAAN UNGGAS

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringan-jaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan khemis dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan. Dari empedal makanan yang bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti hanya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, memasuki pula duodenum.

Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus. Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir kedalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).

Pencernaan Karbohidrat

Setelah makanan yang dihaluskan melalui empedal ke lengkukan duodenal maka getah pankreatik dikeluarkan dari pankreas ke dalam lekukan duodenal. Pada waktu yang bersamaan, garam empedu alkalis yang dihasilkan dalam hati dan disimpan dalam kantong empedu dikeluarkan pula kedalam lekukan duodenal. Garam empedu menetralisir keasaman isi usus di daerah tersebut dan menghasilkan keadaan yang alkalis. Tiga macam enzim pencernaan dikeluarkan ke dalam getah pankreas. Salah satu diantaranya adalah amilase yang memecah pati kedalam disakharida dan gula-gula kompleks. Apabila makanan melalui usus kecil maka sukrase dan enzim-enzim yang memecah gula lainnya yang dikeluarkan di daerah ini selanjutnya menghidrolisir atau mencerna senyawa-senyawa gula ke dalam gula-gula sederhana, terutama glukosa. Gula-gula sederhana adalah hasil akhir dari pencernaan karbohidrat.

Pati dan gula mudah dicerna oleh unggas sedangkan pentosan dan serat kasar sulit dicerna. Saluran pencernaan pada unggas adalah sedemikian pendeknya dan perjalanan makanan yang melalui saluran tersebut begitu cepatnya sehingga jasad renik mempunyai waktu sedikit untuk mengerjakan karbohidrat yang kompleks.

Pencernaan Lemak

Garam-garam empedu hati mengemulsikan lemak dalam lekukan duodenal. Lemak berbentuk emulsi tersebut kemudian dipecah ke dalam asam lemak dan giserol oleh enzim lipase, suatu hasil getah pankreas. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan lemak.

 

Pencernaan Protein

Pada waktu bahan makanan dihaluskan dan dicampur di dalam empedal, campuran pepsin hidrokhlorik memecah sebagian protein ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana seperti proteosa dan pepton. Pada saat lemak dan karbohidrat dicerna dalam lekukan duodenal maka tripsin getah pankreas memecah sebagian proteosa dan pepton ke dalam hasil-hasil yang lebih sederhana, yaitu asam-asam amino. Erepsin yang dikeluarkan ke dalam usus halus melengkapi pencernaan hasil pemecahan protein ke dalam asam-asam amino. Zat-zat tersebut merupakan hasil akhir pencernaan protein.

Pencernaan Zat-zat Mineral dan Vitamin

Zat-zat mineral dalam saluran pencernaan dilarutkan, bukan dicerna. Sebagian besar zat mineral tersebut berubah dari bentuk padat ke bentuk cair di dalam empedal. Kulit kerang dan grit misalnya dilarutkan di bagian tersebut. Pencernaan dan metabolisme vitamin dalam tubuh belum banyak dapat diketahui. Karoten, “prekursor” vitamin A, dirubah ke dalam vitamin A dalam tubuhnya dapat membantu vitamin C dari bagian-bagian makanan yang ditelan, Kholesterol dalam tubuh dirubah ke dalam vitamin D karena penyinaran sinar matahari atau sinar ultraviolet.

Penyerapan dan Assimilasi

Zat-zat makanan yang dicerna masuk melalui dinding-dinding usus ke dalam peredaran darah. Sebagian besar penyarapan sangat dipertinggi dengan adanya villi yang tidak terhitung jumlahnya. Zat-zat makanan yang tercerna dalam bentuk gula sederhana, asam-asam amino dan zat-zat mineral yang larut, masuk melalui permukaan dinding usus kedalam kapiler-kapiler darah. Cara bagaimana zat-zat tersebut masuk melalui dinding usus belum banyak diketahui. Lemak yang dicerna masuk melalui dinding usus ke dalam cairan yang menyerupai susu sistema limfatik. Di sini zat-zat tersebut membentuk lemak netral. Lemak dalam limfa lebih banyak merupakan lemak tubuh daripada sebagai lemak yang diperoleh dari bahan makanan. Lemak bergerak bersama-sama limfa dan memasuki aliran darah vena dekat jantung.

Pengangkutan Zat-zat Makanan

Zat-zat makanan yang telah dicerna setelah masuk ke peredaran darah melalui kapiler-kapiler dalam dinding usus dikumpulkan di dalam vena porta. Vena porta tersebut mengangkut darah dan zat-zat makanan yang telah diserap ke hati dalam perjalanannya ke jantung. Setelah makanan yang dicerna masuk melalui kapiler-kapiler hati, sebagian besar glukosa dirubah kedalam glikogen untuk disimpan di dalam hati dan otot. Sebagian asam-asam amini dan hasil-hasil zat yang mengandung nitrogen dan metabolisme jaringan mengalami deaminasi pada waktu zat-zat tersebut melalui hati. Bagian-bagian karbohidrat dapat digunakan untuk panas dan kegunaan-kegunaan energi dan bagian zat yang mengandung nitrogen diangkut ke ginjal untuk disingkirkan. Hati memindahkan pula sebagian lemak dan aliran darah untuk disimpan. Hal tersebut dapat dilihat pada hati yang berwarna pucat kekuning-kuningan dari ayam yang gemuk dan anak ayam yang baru menetas. Kotoran-kotoran yang terserap dan saluran pencernaan ke dalam peredaran darah diambil oleh sel-sel hati pada waktu darah masuk melalui kapiler-kapiler hati. Bila racun ikut terserap maka konsentrasi racun yang tinggi tersebut biasanya terdapat pada hati.

Darah yang membawa zat-zat makanan yang telah dicerna meninggalkan hati dengan perantaraan vena hepatika menuju ke jantung. Darah tersebut melanjutkan perjalanannya dari jantung ke paru-paru untuk melepaskan karbondioksida dan air dan mengambil oksigen. Darah kembali dari paru-paru ke jantung untuk kemudian dialirkan melalui arteri-arteri ke seluruh jaringan tubuh. Zat-zat makanan yang telah dicerna mengalir ke kapiler-kapiler ke limfa yang membasahi sel-sel jaringan. Limfa berguna sebagai medium pertukaran antara kapiler-kapiler dan sel-sel jaringan. Limfa tersebut membawa makanan yang telah dicerna ke sel dan mengangkut sisa-sisa makanan dari sel.

 

PENCERNAAN RUMINANSIA

Pencernaan protein

Protein yang terdapat dalam pakan tidak dicerna dalam mulut. Kemudian di dalam rumen, protein difermentasi oleh mikroba menjadi NH3 dan VFA. Karena fermentasi dilakukan oleh mikroba maka ada pula protein yang berasal dari mikrobia serta terdapat protein yang tidak tercerna atau disebut juga UDP ( Undigestable Protein). NH3 dan VFA hasil fermentasi diabsorpsi di rumen. Setelah NH3 dan VFA diabsorsi di rumen, protein yang tersisa (UDP dan protein mikrobia) masuk ke retikulum kemudian omasum. Di dalam retikulum dan omasum tidak terjadi pencernaan protein.protein mikrobia dan UDP oleh pepsin dipecah menjadi oligopeptida, pepton, dan peptida yang berlangsung di abomasum. Di dalam intestinum oligopeptida, pepton, dan peptida dihidrolisis oleh enzim yang bersifat proteolitik menjadi asam amino kemudian diabsorsi, selanjutnya UDP dan protein mikrobiayang lolos difermentasi di sekum menghasilkan NH3, VFA dan protein mikrobia

Pencernaan lemak

Lemak  adalah ester dari asam lemak dan gliserol (trigliserida). Lemak tidak dicerna didalam mulut. Saat dari dalam rumen lemak dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Gliserol difermentasi menjadi VFA sedangkan asam lemak dijenuhkan menjadi SFFA. SFFA dan lemak yangtidak dihidrolosis selanjutnya masuk ke retikulum setelah sebelumnya VFA diabsobsi dirumen. Setelah dari retikulum, SFFA dan lemak yang tidak terhidrolisis dicerna di intestilum. SFFA diubah menjadi FFA dan lemak menjadi gliserol oleh enzim lipase kemudian diabsobsi. Disekum lemak yang tidak dihidrolisis diubah menjadi gliserol dan SFFA oleh mikroba

Pencernaan Karbohidrat

Pada saat bahan pakan dimakan oleh ternak ruminansia, zat-zat makanan utama yang terkandung adalah karbohidrat, protein, dan lemak. Zat-zat makanan tersebut dicerna dan difermentasi di dalam rumen menghasilkan produk hasil pencernaan yang dimanfaatkan oleh ternak atau mikroba rumen. Jaringan tanaman yang menjadi bahan pakan ternak ruminansia mengandung sekitar 75% karbohidrat. Karbohidrat tersebut dapat dibedakan menjadi 3 menurut fungsinya bagi tanaman, yaitu karbohidrat dinding sel, karbohidrat cadangan, dan karbohidrat isi sel yang larut dalam air. Oleh mikroba yang ada di dalam rumen, karbohidrat tanaman dicerna oleh enzim mikroba menghasilkan gula-gula sederhana. Gula-gula sederhana ini kemudian difermentasi oleh mikroba sehingga dihasilkan sumber energi yang digunakan untuk kehidupan dan perkembangan mikroba itu sendiri. Fermentasi ini menghasilkan produk akhir yang bermanfaat untuk induk semang (ternak).

Hasil akhir fermentasi mikrobial karbohidrat di dalam rumen adalah:

  • Asam-asam lemak mudah terbang (volatile fatty acids, VFA), utamanya asam asetat, asam propionat, dan asam butirat.
  • Gas fermentasi, utamanya gas karbondioksida dan gas metan.

Mikroba rumen mampu memfermentasi semua karbohidrat yang terkandung di dalam pakan. Namun demikian, laju fermentasi (pencernaannya) berbeda-beda antara satu jenis karbohidrat dengan yang lainnya. Kaborhidrat larut dan karbohidrat cadangan difermentasi dengan laju yang lebih cepat dibandingkan dengan karbohidrat dinding sel. Karbohidrat larut dicerna dengan laju sekitar 100 persen lebih cepat dibandingkan dengan karbohidrat cadangan, dan karbohidrat cadangan dicerna 5 kali lebih cepat dibandingkan dengan karbohidrat struktural yang menyusun dinding sel tanaman.

Dengan meningkatnya umur tanaman, jaringan tanaman mengalami lignifikasi. Lignin yang terbentuk ini melindungi karbohidrat dinding sel tanaman dari serangan mikroba di dalam rumen. Dengan demikian, makin tua tanaman makin menurun ketercernaannya di dalam rumen.

Pada ternak non-ruminansia, hasil akhir pencernaan karbohidrat adalah monosakarida, utamanya glukosa. Tidak demikian halnya dengan ternak ruminansia. Pada ternak ruminansia, monosakarida juga dihasilkan selama proses pencernaan mikrobial di dalam rumen, tetapi monosakarida tersebut seperti telah disinggung di atas difermentasi lagi menjadi asam-asam lemak mudah terbang (volatile fatty acids, VFA). Proses fermentasi ini berjalan dengan cepat sehingga dalam kondisi pemberian pakan yang normal, sangat sedikit monosakarida yang lolos dari fermentasi di dalam rumen. Dengan demikian, glukosa bukan merupakan nutrien sumber energi utama yang diserap dari saluran pencernaan ruminansia seperti halnya pada ternak non-ruminansia.

 

Asam Lemak Mudah Terbang (Volatile Fatty Acids, VFA)

Asam-asam lemak mudah terbang (VFA) adalah hasil akhir utama pencernaan fermentatif karbohidrat di dalam rumen. Dalam beberapa literatur, VFA ini sering disebut dengan nama yang berbeda, seperti asam lemak mudah menguap atau asam lemak atsiri. VFA utama yang dihasilkan adalah asam asetat, asam propionat, dan asam butirat. Di samping itu, kadang-kadang dihasilkan pula VFA berantai cabang seperti asam isovalerat, isobutirat, dan lain-lain.

Sebagian besar VFA yang dihasilkan di dalam rumen langsung diserap masuk ke dalam tubuh melewati dinding rumen. Hanya sedikit sekali jumlah VFA yang bisa keluar dari rumen menuju ke saluran pencernaan setelah rumen. Di dalam tubuh, VFA digunakan untuk berbagai proses metabolisme. Di antara VFA, asam asetat adalah yang terbanyak dihasilkan. Proporsi asam asetat bisa mencapai 50 hingga 60 persen dari total VFA yang dihasilkan. Asam asetat selalu dominan di dalam rumen, utamanya pada pemberian pakan yang berbasis hijauan. Asam asetat digunakan oleh tubuh untuk sintesis asam-asam lemak dan merupakan prekursor utama untuk proses lipogenesis yang terjadi pada jaringan adiposa. Beberapa asam asetat juga digunakan dalam metabolisme otot dan lemak tubuh. Produksi asam asetat dalam jumlah yang cukup penting untuk sintesis lemak susu pada ternak ruminansia yang sedang laktasi.

Produksi asam asetat di dalam rumen bisa menurun (namun tetap dominan) apabila pakan yang dikonsumsi mengandung sedikit serat. Hal ini juga terjadi pada sistem pemberian pakan yang menggunakan banyak biji-bijian. Konsumsi minyak yang tinggi juga menurunkan produksi asam asetat di dalam rumen. Asam propionat merupakan anggota VFA terbanyak kedua yang dihasilkan di dalam rumen dan proporsinya adalah sekitar 18 sampai 20 persen dari total VFA yang dihasilkan. Proporsi asam propionat yang tertinggi dicapai pada saat ternak banyak mengkonsumsi biji-bijian. Asam propionat (bersama dengan asam amino) digunakan sebagai bahan untuk proses sintesis glukosa di dalam tubuh melalui proses yang disebut glukoneogenesis yang berlangsung di hati. Di samping itu, asam propionat juga digunakan untuk sintesis laktosa (gula susu).

 

Anggota VFA yang berikutnya adalah asam butirat dan jumlahnya bisa mencapai 12 hingga 18 persen dari total VFA yang dihasilkan. Sebagian besar asam butirat diubah menjadi badan-badan keton pada sewaktu melintasi dinding rumen selama proses penyerapan. Badan keton yang utama adalah beta asam hidrokisbutirat (beta hydroxibutyric acid, BHBA) yang mencapai 80% dari total keton hasil konversi asam butirat. BHBA ini digunakan dalam proses sintesis asam-asam lemak, pada jaringan adiposa maupun jaringan kelenjar mammary.

Gas Fermentasi

Selama proses fermentasi mikrobial bahan pakan di dalam rumen, dihasilkan pula gas fermentasi sebagai hasil samping, utamanya gas karbondioksida (CO2) dan metan (CH4). Gas metan ini dihasilkan oleh mikroba metanogenesis, yaitu mikroba yang dalam metabolisme selnya menghasilkan gas metan. Jumlah gas yang dihasilkan selama proses fermentasi setiap jam bisa mencapai 30 sampai 50 liter pada sapi dan sekitar 5 liter pada domba. Gas fermentasi ini dikeluarkan dari dalam rumen melalui eruktasi (sendawa). Adalah penting bahwa gas bisa dikeluarkan dengan lancar tanpa hambatan. Bila terjadi hambatan maka gas ini akan terperangkap dan mengakibatkan bloat yang membahayakan kehidupan ternak.

Gas yang dihasilkan selama proses fermentasi rumen merupakan proses yang tidak menguntungkan bagi ternak ruminansia atau lingkungan. Produksi metan di dalam rumen menyebabkan kehilangan energi pakan sekitar 7 sampai 8 persen. Di samping itu, gas metan yang dihasilkan juga memberikan kontribusi terhadap pemanasan global (global warming) akibat efek rumah kaca (green house effect) yang ditimbulkannya.

Penyerapan VFA

VFA yang dihasilkan di dalam rumen sebagian besar diserap masuk ke dalam tubuh melalui dinding rumen, dan sebagian kecil masuk dan diserap di omasum dan abomasum. Pengeluaran VFA dari rumen secara terus menerus melalui penyerapan merupakan proses yang penting untuk menjaga rumen dari kondisi yang terlalu asam (penurunan pH). Tingkat keasaman yang tinggi (pH rendah) merupakan kondisi yang tidak diinginkan untuk kehidupan mikroba rumen, utamanya mikroba selulolitik.

Laju penyerapan VFA dari dalam rumen dipengaruhi oleh panjang rantai masing-masing asam anggota VFA. Asam yang rantainya lebih panjang diserap dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam yang rantainya lebih pendek. Dengan demikian, urutan laju penyerapan asam anggota VFA utama adalah butirat > propionat > asetat. Namun demikian, penyerapan asam anggota VFA secara netto yang sampai ke aliran darah ditentukan oleh konsentrasi asam tersebut di dalam rumen dan tingkat penggunaannya oleh dinding rumen. Urutan tingkat penggunaan VFA oleh dinding rumen adalah butirat > propionat > asetat. Karena konsentrasi asam asetat yang tinggi di dalam rumen dan tingkat penggunaannya yang rendah oleh dinding rumen, maka asam asetat lah yang paling banyak muncul di darah, disusul oleh asam propionat, dan kemudian asam butirat. Secara kuantitas, sangat sedikit asam butirat yang dideteksi mencapai darah karena konsentrasinya yang rendah di dalam rumen dan tingkat penggunaannya yang tinggi pada dinding rumen.

Asam laktat juga bisa muncul di dalam rumen apabila ternak ruminansia mengkonsumsi pakan yang banyak mengandung pati. Asam laktat ini juga diserap masuk ke dalam darah melalui dinding rumen. Akumulasi asam laktat di dalam rumen jarang terjadi apabila ternak diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri terhadap pakan tersebut. Waktu penyesuaian yang cukup dan perubahan pemberian pakan yang perlahan-lahan akan memungkinkan bakteri pengguna laktat untuk berkembang di dalam rumen sehingga akumulasi asam laktat secara berlebihan tidak. Apabila dihasilkan terlalu banyak asam laktat melebih kemampuan mikroba untuk menggunakannya, sejumlah besar asam laktat akan diserap dan bisa menyebabkan kondisi acidosis.

 

TERNAK NON-RUMINANSIA

Di dalam lambung hewan non-ruminansia terdapat banyak macam-macam enzim dan HCl yang berguna untuk mencerna makanan secara enzimatis dengan mengubahanya ke monomer yang lebih kecil, seperti enzim pepsin yang mengubah protein menjadi pepton, dan lain sebagainya, pencernaan enzimatis selanjutnya akan di lakukan di usus duodenum. Fungsi HCl sendiri sebagai pengaktif pepsinogen menjadi pepsin, menghidrolisis sedikit disakarida dan mencegah terjadinya fermentasi dalam lambung oleh mikroorganisme.

 

Intestinum tenue

Bagian pertama duodenum menerima isi lambung yang bersifat asam, yang mengalir melalui pilorus dan merupakan tempat predileksi terjadinya ulkus peptikum.

Enzim-enzim yang terdapat pada usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat. Enzim-enzim tersebut adalah :

a) Enterokinase, yang mengaktifkan tripsinogen

b)   Maltase, yang menghidrolisis maltosa menjadi glukosa

c)    Sukrase (invertase), yang menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa

d)   Laktase, yang menghidrolisis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa

e)    Peptidase, yang menghidrolisis peptida-peptida menjadi asam amino

f)    Polinukleotidase, yang memecah asam nukleat menjadi mono-nukleotida

g)   Nukleotidase, yang menghidrolisis nukleotida menjadi nukleosida dan asam fosfor

 

Cecum

Non Ruminansia

•     Pencernaan fermentatif dilakukan atas bantuan mikroba. Pada proses pencernaan fermentatif zat makanan dirombak menjadi senyawa lain yang berbeda sifat kimianya sebagai zat intermediate.

•     Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanyaterjadi satu kali, yakni pada sekum.

 

Anus

Feses mengandung zat anorganik, serat tumbuhan yang tidak tercerna, bakteri, dan air. Komposisi feses relatif tidak terpengaruh oleh variasi dalam makanan karena sejumlah besar fraksi massa feses tidak berasal dari makanan.

 

Glandula Digestoria

  1. Pankreas

Getah pankreas mengandung enzim yang sangat penting untuk pencernaan. Sekresi pankreas sebagian diatur oleh mekanisme refleks dan sebagian diatur oleh mekanisme refleks dan sebagian diatur oleh hormon gastrointestinal sekretin dan CCK. Enzim poten pemecah protein pada getah pankreas disekresikan sebagai proenzim inaktif. Tripsinogen diubah menjadi enzim aktif tripsin oleh enzim enterokinase saat getah pankreas masuk ke duodenum. Tripsin mengubah kimotripsinogen menjadi kimotripsin dan proenzim lain menjadi aktif. Tripsin juga mengaktifkan fosfolipase A2. Enzim ini mengeluarkan sebuah asam lemak dari letisin, yang membentuk lisolesitin.

  1. Hepar

Fungsi hepar yaitu untuk metabolisme zat nutrisi (glukosa, asam amino, lemak) dan vitamin.

  1.     Vesica fellea

Empedu terdiri atas garam empedu, pigmen empedu, dan zat lain yang larut dalam larutan elektrolit alkalis yang mirip dengan getah pankreas. Sebagian komponen empedu direabsorbsi di usus kemudian diekskresikan kembali oleh hepar. Garam empedu memiliki sejumlah efek penting. Garam-garam ini menurunkan tegangan permukaan dan bersama fosfolipid dan monogliserida, berperan pada emulsifikasi lemak sebagai persiapan untuk pencernaan dan penyerapannya di usus halus. Garam empedu cenderung membentuk lempeng silindris yang disebut misel. Lemak berkumpul di dalam misel. Misel berperan penting untuk mempertahankan lemak dalam larutan dan membawanya ke brush border sel epitel usus, tempat lemak tersebut diserap.

 

Pencernaan dan penyerapan lemak

Pencernaan lipid baru dimulai pada saat bahan makanan sampai di usus. Pencernaan ini terjadi dengan bantuan enzim lipase usus, lipase lambung, dan lipase pankreas. Dengan bantuan garam empedu dan fosfolipid empedu, lemak diemulsikan dengan kuat, sehingga dapat dipecahkan oleh lipase pankreas. Lipase akan menghidrolisis lipid dan trigliserahdehida menjadi digliserida, monogliserida, gliserol, dan asam lemak bebas.

Hasil pemecahan mencapai sel epitel usus melalui difusi pasif. Di sana asam lemak rantai panjang diaktifkan dengan bantuan koenzim A dan kemudian digunakan kembali untuk resintesis triasilgliserol. Hasil ini diserahkan pada pembuluh limfe dan dieksresikan ke dalam ductus torasikus tanpa melalui hepar. Asam lemak rantai pendek dengan atom C kurang dari 12 pasang masuk ke dalam darah dan hati melalui vena porta. Gliserol yang terserap juga bisa melalui jalan ini.

 

Proses absorpsi nutrisi

  1. a.      Karbohidrat

Karbohidrat makanan disajikan ke dalam usus halus unutk diserap terutama dalam bentuk disakarida maltosa (produk pencernaan polisakarida), sukrosa dan laktosa. Disakarida yang terdapat di brush border usus halus selanjutnya menguraikan disakarida ini menjadi satuan monosakarida yang dapat diserap yaitu glukosa, galaktosa dan fruktosa.

Glukosa dan galaktosa diserap oleh tansport aktif sekunder, sementara pembawa kotranspor di batas luminal mengangkut monosakarida dan ion Nadari lumen ke dalam interior sel usus. Glukosa atau galaktosa setelah dikumpulkan di dalam sel maka keluar mengikuti gradien konsentrasi untuk masuk ke darah di dalam vilus.fruktosa diserap ke dalam darah melalui difusi terfasilitasi ( transportasi pasif yang diperantarai oleh pembawa).

 

  1. b.      Protein

Yang diserap dan dicerna tidak hanya protein dari makanan, tetapi protein endogen dari dalam tubuh yang masuk ke lumen saluran pencernaan dari 3 sumber berikut juga diserap

1. Enzim pencernaan, yang semuanya protein yang telah disekresikan ke dalam lumen.

2. Protein di dalan sel yang telah lepas dari vilus ke dalam lumen selama proses pertukaran mukosa.

3. Sejumlah kecil protein plasma yang dalam keadaan normal bocor dari dalam kapiler ke dalam lumen saluran pencernaan.

Setiap hari, dari ketiga sumber ini sekitar 20-40 g protein endogen masuk ke lumen. Jumlah ini dapat mencapai lebih dari separuh protein yang disajikan ke usus halus untuk dicerna dan diserap. Semua protein endogen harus dicerna dan diserap bersama protein makanan untuk mencegah pengurangan simpanan protein tubuh. Asam amino yang diserap dari protein makanan dan protein endogen digunakan untuk mensintesis protein baru. Berbagai asam amino ini diangkut oleh pembawa yang spesifik.

  1. c.       Lemak

Lemak tidak larut dalam air maka terdapat rangkaian transformasi untuk pencernaaan dan penyerapannya. Sewaktu isi lambung mengalir ke duodenum, lemak menggumpal membentuk butir-butir trigliserida berukuran besar yang mengambang dalam kimus. Produk pencernaan lipase (monogliseralhida dan asam lemak bebas) juga tidak terlalu larut air  sehingga hanya sedikit dari produk akhir pencernaan lemak dapat berdifusi menembus kimus untuk dapat mencapai permukaan absorptif. Namun komponen empedu mempermudah penyerapan produk akhir tersebut melalui pembentukan misel. Setelah misel-misel mencapai membran luminal sel-sel epitel, monogliseralhida dan asam lemak bebas secara pasif berdifusi dari misel menembus komponen lemak membran sel epitel untuk memasuki interior sel tersebut.

  1. d.      Mineral dan air

Pencernaan secara fisiologi

Usus halus adalah tempat berlangsungnya sebagian pencernaan dan penyerapan. Segmentasi yaitu metode motilitas utama usus halus mendorong dan mencampur secara perlahan cymus. Segmentasi ini terdiri dari kontraksi berbentuk cincin di sepanjang usus halus yang berosilasi otot polos sirkuler di sepanjang usus halus. Diantara semen-segmen yang berkontraksi terdapat daerah yang berisi bolous kecil cymus. Cincin – cincin kontraksi timbul setiap beberapa centimeter membagi usus halus menjadi  seperti rantai sosis.cincin kontraktil ini tidak menyapu ke seluruh panjang usus seperti yang dilakukan oleh gelombang peristaltik. Namun segmen yang berkontraksi setelah jeda singkat, melemas dan kontraksi berbentuk cincin kemudian muncul di daerah yang semula melemas. Dengan cara inin cymus dihancurkan, dikocok dan dicampur secara merata. Pencampuran itu mempunyai fungsi ganda yaitu mencampurkan cymus dengan getah pencernaan, yang disekresikan ke dalam lumen usus halus dan memanjangkan seluruh cymus ke permukaan absorptif mukosa usus halus. Kontraksi segmental diawali oleh sel-sel pemacu usus halus, yang menghasilkan irama listrik dasar (BR) serupa dengan BER lambung yang menentukan peristalsis di lambung.

Tingkat ketanggapan otot polos sirkuler dan longitudinal dengan demikian intesitas kontraksi segmental dapat dipengaruhi oleh hormon gastrin dan aktivitas saat saraf ekstrinsik. Semua faktor tersebut dapat mempengaruhi eksitabilitas sel otot polos usus halus dengan menggerakan potnsial istirahat di sekitar osilasi BER mendekati atau menjauhi ambang. Diantara waktu makan, segmentasi akan sedikit atau tidak ada. Tetapi segera setelah makan kontraksi segmental akan kuat. Baik duodenum maupun ileum mulai melakukan kontraksi segmental secara simultan sewaktu makanan pertama kali masuk ke intestinum tenue. Duodenum mulai melakukan segmentasi terutama sebagai respon terhadap peregangan yang ditimbulkan oleh adanya cymus. Segmentasi ileum yang kosong, di pihak lain tampaknya ditimbulkan oleh gastrin yang disekresikan sebgai respon terhadap keberadaan cymus di lambung, suatu mekanisme yang dikenal sebagai refleks gastroileum.

segmentasi tidak saja menyebabkan pencampuran cymus tetapi juga merupakan faktor utama yang mendorong cymus secara perlahan melewati usus halus. Kompleks motilitas migartif menyapu bersih usus diantara waktu makan. Motilitas ini berupa gelombang peristaltik repetitif lambat yang berjalan singkat ke arah hulu usus sebelum lenyap. Gelombang berawal dari lambung lalu ke intestinum tenue dan setiap gelombang peristaltik baru dimulai di tempat yang terletak sedikit ke bawah di intestinum tenue. Diperkirakan bahwa hormon motilin yang keberadaannya belum dapat dipastikan mungkin dapat berfungsi mengatur kompleks motilitas migratif. Seaktu makanan berikutnya datang, aktivitas segmental kembali terjadi dan kompleks motilitas migratif berhenti. Pertemuan anatara ileum dan sekum mencegah kontaminasi intestinum tenue oleh bakteri kolon. Sekresi usus halus tidak mengandung satu pun enzim pencernaan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: