LAPORAN RESMI EKONOMI PERUSAHAAN PETERNAKAN

29 Jun

LAPORAN RESMI

EKONOMI PERUSAHAAN PETERNAKAN

 

PT. Mitra Karya, Desa Losari, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang

 

 

 

Disusun oleh :

 

Putri Yuniarti                                    23010111120045

Crystalia Nidia Kinanti                     23010111120046

Aisyah Nurhajah                               23010111120048

Pradhita Putri Raharjo                    23010111120049

Arif Nurrohman                                23010111120050

Yuli Miftasari                                                23010111120051

Imam Azis Setiawan                          23010111120052

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI S-1 PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

            Suatu lembaga yang didalamnya terdapat faktor-faktor produksi yang diorganisir sehingga dapat saling bekerja sama untuk menciptakan batang dan atau jasa yang disediakan bagi masyarakat denagn tujuan untuk mendapatkan laba disebut perusahaan. Faktor-faktor produksi adalah segala sesuatu yang dipergunakan untuk kegiatan produksi atau untuk kegiatan usaha perusahaan. Secara garis besarnya macam-macam faktor produksi adalah alam, manusia, kapital atau modal dan teknologi.

            Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan bertujuan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh suatu perusahaan peternakan, khususnya PT. Mitra Karya yang merupakan perusahaan ayam pedaging.

            Manfaat yang dapat diambil dari Praktikum Ekonomi Perusahaan adalah mengetahui kegiatan-kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh suatu perusahaan peternakan, khususnya PT. Mitra Karya yang merupakan perusahaan ayam pedaging.

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Biaya

            Biaya merupakan suatu peristiwa atau kejadian yang diukur berdasakan nilai uang yang timbul atau mungkin akan timbul untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Biaya bagi perusahaan – perusahaan yang memproduksi sesuatu merupakan harga faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan outputnya. Biaya merupakan nilai uang alat-alat produksi yang dikorbankan rumah tangga perusahaan pada proses produksinya (Kartasapoetra dan Bambang, 1992). Biaya merupakan jumlah uang yang dibelanjakan agar diperoleh barang atau jasa tertentu. Dapat pula diartikan jumlah total pembayaran yang dilakukan perusahaan atau perseorangan untuk pengadaan faktor-faktor produksi, bahan-bahan baku dan jasa-jasa yang dibutuhkan perusahaan tersebut (Wirasasmita et al.,2002).

 

2.2.      Harga Pokok Produksi

            Harga pokok produksi adalah jumlah pengeluaran dan beban yang diperkenankan langsung atau tidak langsung untuk menghasilkan barang atau jasa. dapat pula disebut pengorbanan dari faktor produksi sebagai sumber daya ekonomi yang diramu untuk menciptakan barang atau jasa (Firdaus, 2009).

 

2.3.      Harga Pokok Penjualan

            Harga pokok penjualan adalah harga yang dijadikan sebagai dasar atau patokan bagi harga-harga lainnya yang bisa jadi mencakup biaya pengangkutan, pekerjaan tambahan, pembungkusan, dan biaya-biaya tambahan lainnya (Wirasasmita, 2002). Nilai harga pokok penjualan lebih besar dari nilai harga pokok produksi.

 

2.4.      Break Even Point (BEP)

            Break Even Point (BEP) adalah titik (dalam kurva) yang mewakili keadaan yang tidak menghasilkan laba dan juga tidak rugi. Suatu perusahaan disebut berada pada titik impas jika total penerimaan perusahaan sama denga total pengeluarannya (Wirasasmita, 2002).

 

2.5.      Likuiditas (Current Ratio)

Likuiditas adalah kesanggupan potensiil atau kesanggupan efektif seseorang atau suatu perusahaan untuk memenuhi (membereskan kewajiban-kewajibannya). Kesanggupan ini diukur dari perbandingan antara jumlah kekayaan yang tersedia untuk membayar hutang-hutang dan jumlah hutang yang harus dibayar (Wirasasmita, 2002).

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya. Likuiditas diukur dengan rasio aktiva lancar dibagi dengan kewajiban lancar. Perusahaan yang memiliki likuiditas sehat paling tidak memiliki rasio lancar sebesar 100%. Ukuran likuiditas perusahaan yang lebih menggambarkan tingkat likuiditas perusahaan ditunjukkan dengan rasio kas (kas terhadap kewajiban lancar). Rasio likuiditas antara lain terdiri dari: Current Ratio : adalah membandingkan antara total aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Likuiditas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansilnya yang segera harus dibayar (hutang jangka pendek). Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban setiap saat. Perusahaan yang mampu memenuhi semua kewajiban-kewajibanya (baik terhadap utang maupun kewajiban sehari-harinya) dikatakan dalam keadaan likuid. Sedangkan perusahaan yang tidak mampu dikatakan dalam keadaan illikuid (Wirasasmita, 2002).

2.6.      Solvabilitas

Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar semua hutangnya, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Keadaan solvabel adalah keadaan yang timbul apabila kewajiban-kewajiban, selain kewajiban-kewajiban terhadap pemilik, berjumlah lebih kecil daripada total aktiva suatu perusahaan (Wirasamita, 2002).

Atau kemampuan peruahaan untuk membayar semua utang-utangya pada saat perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan. Pada solvabilitas kemampuan membayar adalah semua kekayaan, baik aktiva lancer maupun aktiva tetap, begitu pula dengan kewajiban finansialnyaadalah semua hutang, baik hutang jangka pendek amupun hutang jangka panjang (Wirasasmita, 2002). Solvabilitas dapat dihitung atau diketahui dari laporan neraca perusahaan dengan membandingkan seluruh aktiva dengan seluruh aktiva. Utang perusahaan yang dimasukan dalam rumus tersebut meliputi baik utang jangka pendek (utang lancar) maupun utang jangka panjang. Sedangkan total aktiva adalah  semua kekayaan perusahaan, meliputi aktiva lancer dan aktiva tetap. Apabila perusahaan mampu memenuhi semua kewajibanya pada saat dibubarkan, berarti peruahaan tersebut dalam keadaan solvabel. Sedangkan kalau perusahaan tidak mampu memenuhinya, dikatakan insovabel (Firdaus, 2009).

 

2.7.      Rentabilitas

Rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan selama periode tertentu. Jadi rentabilitas adalah perbandingan antara keuntungan yang diperoleh dengan  modal atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut. Ada 2 macam rentabilitas, yaitu rentabilitas ekonomis dan rentabilitas modal sendiri (Firdaus, 2009).

  Rentabilitas ekonomis merupakan kemampuan untuk menghasilkan laba dari keseluruhan modal, baik modal asing maupun modal sendiri, yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Rentabilitas modal sendiri merupakan perbsndingsn keuntungsn ysng tersedia bagi pengusaha atau laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri yang digunakan ntuk mendapatkan keuntungan tersebut, jadi modalnya tidak mengandung modal asing (Noor, 2008).

 

2.8.      Payback Period (PP)

Payback period adalah ukuran kelayakan investasi berdasarkan waktu (berapa lama) modal yang sudah ditanamkan dalam suatu proyek dapat kembali. Kriteria payback period adalah makin cepat modal kembali maka makin baik/ makin layak proyek tersebut dilaksanakan. Semakin pendek waktu yang diperlukan untuk pengembaalian biaya investasi, rencana investasi tersebut semakin menguntungkan atau dengan kata lain semakin kecil waktu payback period, proyek tersebut semakin baik. Perhitungan kelayakan pengembalian investasi ini didasarkan pada present value atau discounted dari perkiraan dana yang masuk (cashflows), selama umur proyek (Noor, 2008).

 

2.9.      Return of Investment (ROI)

Return on investment (ROI) atau tingkat pengembalian investasi rata-rata adalah ukuran kelayakan investasi berdasarkan rata-rata rasio laba bersih (EAT) dengan investasi neto selama umur proyek investasi (Noor, 2008).


BAB III

METODOLOGI

3.1.      Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2012 pukul 10.30-12.00 bertempat di PT Mitra Karya, Desa Losari, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang.

3.2.      Metode

            Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode observasi, yaitu dengan melakukan kunjungan ke perusahaan dan mendapatkan data dari nara sumber melalui serangkaian proses wawancara.

3.3.      Rumus Perhitungan

            Rumus yang digunakan dalam perhitungan praktikum ekonomi perusahaan peternakan meliputi Break Event Point (BEP), Return of Investment (ROI), Payback periode (PP), Likuiditas (Current ratio)

Untuk mengetahui sejauh mana investasi itu kembali, maka dirumuskan sebagai berikut :

 

 

3.3.1.   Payback Period (PP)

• Jika proceed yang dihasilkan tiap tahun sama :

PP =     x 12 Bulan

   Dimana proceed = EAT + Depresiasi

EAT = Laba bersih setelah pajak

• Jika proceed yang dihasilkan tiap tahun beda :

HP                  =                      xxx

NS                   =                      (xxx)

Investasi          =                       xxx

Proceed thn. 1 =                      (xxx)

Sisa Investasi =                       xxx

Proceed thn. 2 =                     (xxx)

Sisa Investasi =                     xxx

 

Dan seterusnya sampai investasi tidak dapat dikurangi dengan proceed tahun selanjutnya, lalu :

 x 12 Bulan

Jika payback period > umur ekonomis, Investasi ditolak

Jika payback period < umur ekonomis, Investasi diterima

Jadi kriteria penilaian pada metode payback period ini adalah jika payback periodnya lebih kecil dari waktu maksimum yang disyaratkan maka proyek diterima, dan sebaliknya bila payback periodnya lebih besar atau lebih lama dari waktu yang diisaratkan maka investasi ditolak.

 

3.3.2.   Likuiditas (Current ratio)

Untuk menentukan likuiditas dapat digunakan rumus sebagai berikut dengan mencari current ratio dan quick ratio :

Current Ratio      =     

Quick Ratio         =      

Aktiva lancar adalah aktiva atau kekayaaan perusahaan yang dapat dengan segera dicairkan dalam bentuk uang tunai. Termasuk dalam katagori aktiva lancer ini adalah kas, bank, surat-surat berharga, piutang dan persediaan barang.

3.3.3.   Solvabilitas

 

Untuk menentukan solvabilitas dapat digunakan rumus sebagai berikut Solvabilitas         =      

3.3.4.   Rentabilitas

Untuk mencari besarnya rentabilitas ekonomis dapat digunakan rumus berikut ini :

 

 

Dimana :

RE = Rentabilitas Ekonomis

            Lk = Laba Kotor

            MA = Modal Asing

            MS = Modal Sendiri

Rentabilitas modal sendiri dapat dicari dengan menggunakan rumus :

 

Di mana :

RMS = Rentabilitas Modal Sendiri

            Lb = Laba Bersih (sesudah bunga dan pajak)

            MS = Modal Sendiri (Modal Saham)

3.3.5.   ROI (Return Of Investment)

 

Menggunakan rumus sebagai berikut:

ROI = Profit Margin × Net Operating Income, atau

 

ROI = 100%

 


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Keadaan Umum Perusahaan

PT. Mitra Karya adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan ayam pedaging bertempat di desa Losari, kecamatan Sumowono, kabupaten Semarang. Perusahaan ini dimiliki oleh Bapak Khoiri Ustadzin. Perusahaan ini awalnya merupakan peliharaan milik pribadi yang dimulai pada bulan Oktober tahun 2011.  Dana awal yang digunakan untuk memelihara 1000 ekor berkisar minimal Rp. 20.000.0000,-. Perusahaan ini memiliki 3 orang karyawan. Gaji setiap karyawan dihargai Rp. 250/ekor tiap masa panen.

            Awalnya dulu memelihara ayam sebanyak 4.500 ekor dan sekarang sudah mulai berkembang dan membuat kandang sendiri. Pemilik usaha ini berwirausaha dengan mitra kepada penyuplai pakan, obat-obatan sehingga pemasaran langsung dengan mitra, akan tetapi jika pemasaran masih tersisa beberapa ekor karena kebutuhan di perusahaan Mitra Karya sudah penuh maka akan dijual sendiri. Luas kandang yang digunakan yaitu 50 x 7, 5 m dengan kapasitas 6.500-7000 ekor. Sekarang perusahaan ini memiliki 2 kandang bertingkat, setiap tingkat berkapasitas 4000 ekor ayam, dapat dikatakan bahwa jumlah ternak ayam broiler yang dimiliki sekarang 16.000 ekor. Untuk pembuatan kandang baru dengan kapasitas ± 7000 membutuhkan dana Rp. 100.000.000,-. Pemasukan untuk tiap ekornya yaitu Rp. 700,-. Pemilik usaha pernah mengalami rugi sekali dalam 7x pemeliharaan. Awalnya memulai usaha dengan membeli kandang milik orang lain dengan harga muka Rp. 25.000.000,- dan bisa terlunasi selama 1 tahun. Tempat perkantoran di rumah sendiri milik pengusaha. Alat kantor beli dengan dana milik sendiri. Perusahaan ini memiliki kas khusus hanya sebesar Rp.15.000.000,00 karena belum begitu besar usahanya tetapi sudah masuk usaha menengah ke atas. Persediaan Rp. 50.000.000,00 sebagai persediaan/jaga-jaga jikalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada perusaah peternakan ini. Perekonomian berkembang dengan baik karena sudah dapat membuat kandang baru dengan kapasitas yang lebih besar.

            Pemasok pakan dan obat-obatan dari Charoen Pokphand Indonesia, pakan sebesar 18,4 ton (368 sak) dengan harga per sak Rp.280.000,00  dan obat-obatan membutuhkan biaya Rp.200.000,00 / 1000 ekor, untuk doc (bibit) mengambil dari CV. Salatiga sejumlah 16.000 ekor dengan harga tiap ekornya Rp.5.000,00 , untuk pemanas dari TKPI Pingit sebesar Rp.1.000.000,00 dalam satu masa pemeliharaan, sedangkan sekam mengambil dari Demak dengan sekali angkut menggunakan truk dengan isi 180 sak dengan harga per sak Rp.2.000,00. Perusahaan pernah kehabisan pakan saat panen yang seharusnya ayam sudah habis tapi masih tersisa dan pakan sudah habis. Oleh karena itu perusahaan Mitra Karya meminjam pakan dari perusahaan peternakan ayam yang lain dengan catatan perusahaan tersebut masih dalam satu mitra. Setiap tahunnya perusahaan ini dikenai pajak bumi dan bangunan sebesar Rp. 1.500.000,00. Dari harga pokok produksi yang ada, pemilik perusahaan peternakan ini mengambil 10% keuntungan.


4.2.      Hasil Perhitungan

4.2.1.   Biaya

Tabel 1. Total Biaya Produksi PT Mitra Karya

Macam Biaya

Dalam Rupiah

  1. A.    Biaya Variabel

 

  1. Biaya Bibit (DOC) 16.000 ekor x 5.000

80.000.000

  1. Biaya Pakan 368 sak x 280.000

103.000.000

  1. Biaya Kesehatan 200.000 / 1000 ekor x 16.000

3.200.000

Total Biaya Variabel

186.200.000

  1. B.     Biaya Tetap Operasional

 

  1. Biaya Hidup Peternak 3 orang x 666.667

2.000.000

  1. Biaya Gaji Karyawan Tetap 250 x 16.000 x 3
  2. Biaya Penyusutan Perlengkapan Peternakan 2 x 250.000

12.000.000

500.000

Total Biaya Operasional

14.500.000

  1. C.    Total Biaya Produksi (Biaya Tetap)

200.700.000

Sumber : Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2012

4.2.1.1. Penentuan Harga Pokok Produksi (HPP)

Jumlah Produksi tiap masa panen = 16.000 ekor

HPP = Total Biaya Produksi       = 200.700.000 = Rp 12.543,75

                Jumlah Produksi                  16.000

 

4.2.1.2. Penentuan Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan = (10% x Harga Pokok Produksi) + Harga Pokok Produksi

                                           = (10% x Rp. 12.543,75) + Rp. 12.543,75

                                           = Rp 1.254,375 + Rp. 12.543,75

                                           = Rp 13.798,125


4.2.1.3. Penentuan Break Event Point (BEP)

=                      Biaya Tetap/unit

Harga Jual/ unit – Biaya variabel/unit

=                      200.700.000/16.000

13.798,125 –  (186.200.000/16.000) 11.637,5

=                      12.543,75

13.798,125 – 11.637,5

=          12.543,75

2.160.625

=          5,805

4.2.2.   Rasio Keuangan

Tabel 2. Rasio Keuangan PT. Mitra Karya

Aktiva

Pasiva

Kas

15.000.000

Hutang bank

50.500.000

Persediaan

50.000.000

Total HL

50.500.000

Total AL

65.000.000

Hutang  jangka  panjang

120.000.000

Aktiva tetap

125.000.000

Modal

20.000.000

Akum. Penyusutan

500.000

 

 

Total AT

125.500.000

Total HT

100.000.000

Total aktiva

190.500.000

Total pasiva

190.500.000

Sumber : Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2012.

Tabel 3. EAT, EBIT, MS dan MA PT. Mitra Karya

EAT

20.070.000 – 1.500.000 = 18.570.000

EBIT (Laba Kotor)

220.770.000 – 200.700.000 = 20.070.000

MS

20.000.000

MA

170.500.000

Sumber : Data Primer Praktikum Ekonomi Perusahaan Peternakan, 2012.

 

 

4.2.2.1. Likuiditas

Current Ratio = aktiva lancar / hutang lancar

                        = 65.000.000 / 50.500.000

                        = 1,287

Jadi, setiap Rp 1,- hutang lancar dijamin dg Rp 1,287 aktiva lancar. Semakin tinggi nilai likuiditas, semakin besar kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang

4.2.2.2. Solvabilitas

Solvabilitas      = total aktiva / total hutang

= 190.500.000 / 170.500.000

= 1,117

Jadi, setiap Rp 1,- hutang perusahaan dijamin oleh Rp 1,117 kekayaan yang dimiliki perusahaan  

4.2.2.3. Rentabilitas

Rentabilitas Ekonomi =                      EBIT (laba kotor)

(MS (Modal Sendiri) + MA (Modal Asing)

= 20.070.000  / (20.000.000 + 170.500.000) x 100%

= 20.070.000 / 145.000.000 x 100%

= 10,53%

Jadi, setiap satu rupiah mendapatkan keuntungan sebesar 10,53% dari biaya yang dikeluarkan

4.2.2.4. Payback Period (PP)

            PP        = investasi x 1 tahun

                 Cashflow

            = (tanah + kandang) x 1 tahun

                    Cashflow

            = 100.000.000  x 1 tahun

                 15.000.000

            = 6,67 tahun

Jadi, waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan semua investasi yang dikeluarkan dapat kembali selama 6,67 tahun.

4.2.2.5. Return of Investment (ROI)

ROI     =          EAT              x 100%

                        Investasi

            =          18.570.000      x 100%

           100.000.000

= 0,1857 x 100%

= 18,57%

Jadi, perusahaan ini layak untuk diteruskan karena setiap Rp 100.000.000 uang yang dikeluarkan, akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 18.570.000, sehingga nilai ROI melebihi dari suku bunga kredit yaitu sebesar 14%.

 


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.      Kesimpulan

            Berdasarkan serangkaian kalkulasi terhadap keuangan PT. Mitra Karya maka dapat disimpulkan bahwa PT. Mitra Karya memiliki kemampuan untuk membayar hutang yang cukup tinggi, kemampuan untuk menghasilkan keuntungan selama periode tertentu yang cukup tinggi, dan memiliki kemampuan untuk membayar semua hutangnya, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang yang cukup tinggi, namun butuh waktu yang lama untuk mengembalikan modalnya.

5.2.      Saran

Sebaiknya pemilik usaha memberikan pelayanan yang lebih baik terhadap karyawan seperti memberikan asuransi kesehatan, sehingga karyawan akan lebih sejahtera dan dapat bekerja dengan tenang serta lebih konsen terhadap pekerjaannya.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, M. 2009. Manajemen Agribisnis. PT Bumi Aksara, Jakarta.

 

Kartasapoetra, G. dan S. Bambang. 1992. Kalkulasi dan Pengendalian Biaya Produksi. Rineka Cipta, Jakarta.

 

Noor, H. F. 2008. Ekonomi Manajerial. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Rasyaf, M. 1995. Manajemen Peternakan Ayam Broiler. Penebar Swadaya, Bogor.

 

Wirasasmita, R., M. K. Sulaiman., R. H. Sitorus., B. Manurung. 2002. Ekonomi. CV Pionir Jaya, Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


LAMPIRAN

  1. 1.      Keadaan Perusahaan Peternakan PT. Mitra Karya

 

 

 

 

 

  1. 2.      Pemilik Perusahaan Peternakan PT. Mitra Karya

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: