Laporan Resmi Ilmu Nutrisi Ternak Dasar

29 Jun

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU NUTRISI TERNAK

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Kelompok XA

Adella Chintya Maharani                23010111120037

Aisyah Nurhajah                               23010111120048

Pradhita Putri Raharjo                    23010111120049

Arif Nurrohman                               23010111200050

Yuli Miftasari                                    23010111120051

Imam Azis Setiawan                         23010111120052

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

20012

  1. 1.                  JUDUL

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU NUTRISI TERNAK

II.        TUJUAN

Tujuan dari praktikum Klasifikasi Bahan Pakan yaitu dapat mengenal jenis-jenis bahan pakan beserta ciri-ciri fisiknya seperti warna, bentuk bau, rasa dan zat antinutrisi yang terkandung didalamnya. Manfaat dari praktikum Klasifikasi bahan pakan adalah praktikan dapat mengetahui berbagai macam bahan pakan dan mengelompokkan bahan pakan sesuai dengan klasifikasi secara Internasional.

III.       PROSEDUR

            Pertama yang perlu dilakukan yaitu menyiapkan seluruh bahan pakan yang akan digunakan untuk praktikum. Menempatkan bahan pakan kedalam toples dan memberi label berdasarkan nama bahan kemudian menyiapkan alat tulis. Melakukan uji dengan membedakan jenis pakan berdasarkan standar internasional dan uji organoleptik berdasarkan warna, rasa, bentuk, tekstur, dan bau. Menggolongkan bahan pakan berdasarkan tata urutan menurut klasifikasi bahan pakan secara internasional. Mencatat hasil pengamatan kedalam kertas yang sudah dipersiapkan.

 

 

 

 

IV.       HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Hasil

     Tabel 1. Hasil Pengamatan Bahan Pakan Ternak

No

Bahan Pakan

Klasifikasi

Bahan Pakan Internasional

Uji Organoleptik

Tekstur

Warna

Bentuk

Bau

Rasa

1.

Tepung kulit pisang

Kelas 1. Hijauan kering dan jerami

Halus

Hitam

Butiran

Menyengat

Asin

2.

Tepung tongkol jagung

Kelas 1. Hijauan kering dan jerami

Kasar

Kuning

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

3.

Kulit kakao

Kelas 1. Hijauan kering dan jerami

Kasar

Kuning

Padatan

Khas

Pahit

4.

Kulit kacang tanah

Kelas 1. Hijauan kering dan jerami

Kasar

Coklat

Bulat

Tidak berbau

Tidak ada rasa

5.

Kulit kacang kedelai

Kelas 1. Hijauan kering dan jerami

Kasar

Coklat keputihan

Bulat

Khas

Tidak ada rasa

6.

Jerami padi

Kelas 1. Hijauan Kering dan jerami

Kasar

Kuning

Lembaran

Khas

Pahit

7.

Klobot jagung

Kelas 1. Hijauan Kering dan jerami

Kasar

Putih kekuningan

Lembaran

Menyengat

Tidak ada rasa

8.

Jerami kacang tanah

Kelas 1. Hijauan Kering dan jerami

Kasar

Hijau

Daun

Khas

Tidak ada rasa

 

 

9.

 

 

Jerami jagung

 

 

Kelas 1. Hijauan Kering dan jerami

 

 

Kasar

 

 

Hijau kuning

 

 

Daun

 

 

Khas

 

 

Tidak ada rasa

10.

Daun ketela pohon

Kelas 2. Pastura

Kasar

Hujau

Daun

Khas

Pahit

11.

Brachiaria brizantha

Kelas 2. Pastura

Kasar

Hijau

Lembaran

Khas

Pahit

12.

Rumput gajah

Kelas 2. Pastura

Kasar

Hijau

Lembaran

Khas

Pahit

13.

Daun jarak

Kelas 2. Pastura

Halus

Hijau

Daun

Khas

Pahit

14.

Daun gamal

Kelas 2. Pastura

Halus

Hijau

Daun

Khas

Tidak ada rasa

15.

Alang-alang

Kelas 2. Pastura

Kasar

Hijau

Lembaran

Khas

Tidak ada rasa

16.

Pollard

Kelas 4. Sumber energi

Halus

Coklat keputihan

Butiran

Amis

Khas

17.

Biji nangka

Kelas 4. Sumber energi

Halus

Coklat keputihan

Bulat

Khas

Tidak ada rasa

18.

Ketela pohon

Kelas 4. Sumber energi

Halus

Putih

Bulat

Tidak berbau

Manis

19.

Shorgum

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Coklat kemerahan

Butiran

Khas

Tidak ada rasa

20.

Jagung kuning

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Orange

Butiran

Khas

Manis

21.

Bekatul

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Coklat kekuningan

Serbuk

Manis

Pahit

22.

Tepung gaplek

Kelas 4. Sumber energi

Halus

Putih

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

23.

Millet

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Hitam, putih coklat

Butiran

Khas

Tidak ada rasa

24.

Jagung putih

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Putih, kekuningan

Biji

Khas

Tidak ada rasa

25.

Kedelai

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Coklat

Biji

Khas

Tidak ada rasa

26.

Onggok

Kelas 4. Sumber energi

Kasar

Putih

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

27.

Tepung ikan

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Coklat

Butiran

Amis

Khas

28.

Meat bone meal

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Coklat

Butiran

Khas

Tidak ada rasa

29.

Biji jarak

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Hijau

Bulat

Khas

Pahit

30.

Tepung daun lamtoro

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Hijau

Serbuk

Khas

Pahit

31.

Tepung daun turi

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Hijau

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

32.

Kulit ari kedelai

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Coklat kekuningan

Butiran

Tidak berbau

Tidak ada rasa

33.

Bungkil kelapa

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Coklat kekuningan

Serbuk

Menyengat

Pahit

34.

Bungkil kelapa sawit

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Coklat kehitaman

Serbuk

Menyengat

Tidak ada rasa

35.

Biji kapuk

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Coklat kehitaman

Bulat kecil

Tidak berbau

Tidak ada rasa

36.

Poultry Meat Meal

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Coklat

Serbuk

Amis

Pahit

37.

Ampas tahu

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Kuning keputihan

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

38.

Kacang tanah

Kelas 5. Sumber protein

Bulat

Coklat

Bulat

Khas

Tidak ada rasa

39.

Tepung bulu

Kelas 5. Sumber protein

Halus

Putih

Halus

Khas

Pahit

 

40.

 

Biji kapas

 

Kelas 5. Sumber protein

 

Kasar

 

Coklat kehitaman

 

Butiran

 

Khas

 

Tidak ada rasa

41.

Biji bunga matahari

Kelas 5. Sumber protein

Kasar

Putih

Biji

Khas

Tidak ada rasa

42.

Kapur

Kelas 6. Sumber mineral

Kasar

Abu-abu

Butiran

Tidak berbau

Tidak ada rasa

43.

Tepung kerang

Kelas 6. Sumber mineral

Kasar

Abu-abu

Butiran

Amis

Amis

44.

Tepung tulang

Kelas 6. Sumber mineral

Halus

Putih

Serbuk

Amis

Tidak ada rasa

45.

Mineral mix

Kelas 6. Sumber mineral

Halus

Pink

Serbuk

Menyengat

Pahit

46.

Vitamin mix

Kelas 7. Sumber vitamin

Halus

Pink

Serbuk

Khas

Tidak ada rasa

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012 

4.2.  Pembahasan

4.2.1.  Hijauan kering dan jerami

Hijauan kering dan jerami merupakan kelas nomor satu dalam klasifikasi internasional, karena kelas ini berupa hijauan dan bahan pakan baik berupa legum maupun graminae yang sudah diambil hasil utamanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa kelas ini mengikutsertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, dan produk lain dengan lebih dari 10% serat kasar dan mengandung lebih dari 35% dinding sel. Pendapat ini ditambahkan oleh Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa yang termasuk kelas hijauan kering dan jerami adalah semua hay, jerami kering, dry fodder, dry stover dan semua bahan makanan kering yang berisi 18% atau lebih serat kasar.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, bahan pakan yang termasuk hijauan kering dan jerami adalah jerami padi, kulit kacang kedelai, jerami jagung, jerami kacang tanah, kulit kacang kedelai, dan kelobot jagung. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyataka bahwa bahan pakan yang termasuk dalam kelas nomor satu adalah hay, jerami, fodder (bagian aerial dari tanaman jagung atau sorghum), sekam dan kulit biji polongan. Ditambahkan oleh Agus (2007) yang menyatakan bahwa hay dan jerami termasuk dalam kelas ini.

 

4.2.1.1. Kulit kacang kedelai, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, kulit kacang kedelai berbentuk kulit, berbau khas, memiliki tekstur kasar, rasa yang gurih dan berwarna krem, serta termasuk dalam kelas 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa bahan pakan yang termasuk dalam kelas nomor satu adalah hay, jerami, fodder, sekam dan kulit biji polongan dan kulit kacang kedelai memiliki kandungan BK 86%, abu 8,1%, SK 24,8%, BETN 39,5% dan PK 14,3%. Menurut Agus (2007) bahwa hay dan jerami termasuk dalam kelas ini. Kulit kacang tanah memiliki kandungan nutrisi BETN 11,5 % untuk bahan yang diberikan dan 34,1 % atas dasar bahan kering, serat kasar 39,9 – 40,2%, protein kasar 14,0 – 15 %.

4.2.1.2. Jerami padi, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, jerami padi berbentuk batang memanjang, berbau khas, memiliki tekstur kasar, rasanya hambar dan berwarna krem, serta termasuk ke dalam kelas 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et  al. (1990) yang menyatakan bahwa jerami merupakan contoh dari kelas nomor satu dan memiliki kandungan BK 86%, abu 18,2%, SK 30,9% BETN 32,2% dan PK 3,2%. Agus (2007) menambahkan bahwa jerami padi termasuk dalam kelas nomor satu yang memiliki kandungan BETN 37,9 %, serat kasar 35,7 %, dan protein kasar 3,7-4,3%.

4.2.1.3.  Jerami jagung, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, jerami jagung memiliki warna hijau, rasa tawar, bentuk panjang, tekstur kasar, bau khas, dan masuk dalam klasifikasi hijauan kering dan jerami. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa kelas bahan kering dan jerami mengikut sertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat, dan produk lain dengan lebih dari 10% serat kasar dan mengandung lebih dari 35% dinding sel. Contoh dari hijauan kering dan jerami adalah hay, jerami, fodder, stover, sekam, kulit biji polongan. Menurut Agus (2007) bahwa kelas nomor satu hijauan kering dan jerami mengikutsertakan semua hijauan dan jerami yang dipotong dan dirawat serta produk lain yang mengandung serat kasar lebih dari 18 % atau dinding sel lebih dari 35 %.  Jerami jagung memiliki kandungan BETN 37,9 %, serat kasar 35,7 %, dan protein kasar 3,7- 4,3 %.

4.2.2.   Pastura

Pastura merupakan kelas nomor dua dalam klasifikasi internasional, karena kelas ini berupa rumput atau tanaman atau bahan pakan yang ada di padang penggembalaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa pastura merupakan tanaman padangan, semua hijauan yang dipotong atau tidak, dan diberikan dalam keadaan segar. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, bahan pakan yag termasuk pastura adalah rumput gajah, daun jarak, daun gamal, daun singkong, daun ubi jalar, rumput Brachiaria brizantha, dan alang-alang. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa pastura merupakan semua tanaman yang diberikan secara sejajar sebagai hijauan atau hijauan segar.

4.2.2.1.   Rumput gajah, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, rumput gajah berbentuk daun sejajar, berbau khas, memiliki tekstur kasar, rasanya pahit dan berwarna hijau, serta termasuk ke dalam kelas 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa pastura adalah semua hijauan yang dipotong atau tidak dan diberikan dalam keadaan segar. Agus (2007) menambahkan bahwa contoh dari kelas nomor dua antara lain rumput gajah yang merupakan hijauan yang diberikan dalam keadaan segar. Rumput gajah dalam keadaan segar mempunyai kadar bahan kering 100%, abu 15,9%, lemak kasar 3,2%, serat kasar 29,3%, BETN 40,1% dan protein kasar 11,5%.

4.2.2.2.   Daun gamal, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, daun gamal berbentuk daun menyirip, berbau khas, memiliki tekstur halus, rasanya pahit dan berwarna hijau, serta termasuk ke dalam kelas 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2007) bahwa contoh lain dari pastura adalah rambanan. Daun gamal juga merupakan rambanan. Menurut Putra et al. (2009) bahwa gamal (Gliricidia sepium) selain nilai nutrisinya tinggi dan kandungan dinding selnya rendah, gamal juga merupakan pakan hijauan yang mampu meningkatkan sintesis protein mikroba rumen dan pencernaan nutrien ransum. Pemberian pakan dengan kandungan anti nutrisi asam sianida pada ternak ternak kurang lebih 500 ppm. Daun gamal memiliki kandungan BETN atas bahan kering 48,6 %, serat kasar 13,3 %, protein kasar 19,7%.

4.2.2.3.   Rumput Brachiaria brizantha, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, rumput Brachiaria brizanta berbentuk daun sejajar, berbau khas, memiliki tekstur halus, rasanya pahit dan berwarna hijau, serta termasuk ke dalam kelas 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa rumput Brachiaria brizanta merupakan rumput signal, Brachiaria brizanta merupakan bahan pakan yang memiliki nomor bahan makanan ternak internasional 2-09-974, dalam 100% bahan kering, kadar abu 3,0%, lemak kasar 0,6%, serat kasar 5,9%, BETN 88,5% dan protein kasar 2,0%. Hal ini ditambahkan oleh Tillman et al. (1991) bahwa rumput Brachiaria brizanta merupakan rumput yang diberikan dalam keadaan segar sebelum dipotong dengan daun yang mempunyai struktur daun yang halus dan daun dalam keadaan yang sejajar.

4.2.3.   Silase

            Silase merupakan kelas nomor tiga dalam klasifikasi internasional karena kelas ini berupa hijauan tanaman pakan yang diawetkan secara anaerobik sehingga terjadi proses fermentasi yang menghasilkan asam. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2007) yang menyatakan bahwa kelas ini menyebutkan silase hijauan (rumput, tanaman jagung) tetapi tidak termasuk silase ikan, bebijian, dan umbi. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, tidak ditemukan contoh bahan pakan silase. Menurut Hartadi et al. (1990) bahwa contoh silase antara lain adalah rumput Bromus inermis, Medicago sativa (alfalfa), dan legum. Ditambahkan oleh Agus (2007) yang menyatakan bahwa  kelas silase ini hanya untuk silase hijauan seperti jagung dan alfalfa.

4.2.4.   Sumber energi

            Sumber energi merupakan salah satu bahan pakan yang termasuk kelas nomor empat dalam klasifikasi internasional karena kelas ini berupa bahan pakan yang banyak mengandung energi seperti karbohidrat dan lemak. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa yang termasuk sumber energi adalah bahan pakan dengan protein kasar kurang dari 20 % dan serat kasar kurang dari 18 %, contohnya biji-bijian, limbah penggilingan, dan lain-lain.

            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan bahan pakan yang termasuk sumber energi adalah biji nangka, singkong, jagung putih, onggok, millet, tepung gaplek, pollard, jagung kuning, tepung bonggol jagung, bekatul, sorghum, dan tepung kulit pisang. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (1997) yang menyatakan bahwa bahan makanan sumber energi berasal dari biji-bijian dan limbah prosessing dari bijian itu. Ditambahkan oleh Agus (2007) yang menyatakan bahwa bebijian dan hasil samping penggilingan termasuk dalam kelas ini.

 

4.2.4.1.  Jagung kuning, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, jagung kuning berbentuk butiran biji, berbau khas, memiliki tekstur yang halus, rasanya gurih dan berwarna kuning, serta termasuk dalam kelas 4. Hal ini sesuai dengan pendapat Agus (2007) yang menyatakan bahwa biji-bijian termasuk dalam kelas ini. Menurut Rasyaf (1992) bahwa jagung kuning mempunyai pigmen karoten yang disebut Xanthophyll yang mempunyai pengaruh terhadap pigmen kuning dalam cadangan lemak ayam dan pada kuning telur. Ditambahkan oleh Martawijaya (2004) bahwa jagung kuning mengandung energi dan protein tinggi, tetapi daya lekatnya rendah dan memiliki kandungan protein 8-9%, lemak 3-4%, asam amino 90-95%, dan energi metabolisme sebesar 3.394 kkal/kg.

 

4.2.4.2.  Sorghum, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, sorghum berbentuk tepung, tidak berbau, memiliki tekstur kasar, rasanya hambar dan berwarna cokelat tua, serta termasuk dalam kelas 4. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (1992) yang menyatakan bahwa sorghum (Sorghum vulgare) merupakan bijian asal nabati yang juga menjadi sumber energi. Sorghum mempunyai kandungan energi metabolis sebesar 3.250 kkal/kg. Menurut Martawijaya (2004) bahwa umumnya sorghum berwarna merah, putih atau kecokelatan sorghum. Sorghum berwarna putih lebih banyak digunakan. Sorghum mempunyai zat tanin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga harus ditambah metionin. Kandungan gizinya terdiri protein 13,0%, lemak 2,05%, karbohidrat 47,85%, abu 12,6%, serat kasar 13,5%, dan air 10,64%. Sorghum memiliki kandungan energi sebesar 3.255 kkal/kg.

 

4.2.4.3.  Pollard, Berdasarkan data praktikum pengenalan bahan pakan, pollard berbentuk serbuk, berbau khas, memiliki tekstur halus, rasanya gurih dan berwarna krem, serta termasuk dalam kelas 4. Hal ini sesuai dengan pendapat Ichwan (2003) yang menyatakan bahwa yang menyatakan bahwa pollard merupakan limbah dari pengolaha gandum. Kandungan nutrisinya cukup baik, energi metabolisme 1.140 kkal/kg, protein 11,8%, serat 11,2%, dan lemak 3,0%. Bahan baku utama memang didatangkan dari luar negeri, tetapi limbahnya dapat diperoleh dari pabrik pengolahan gandum menjadi tepung terigu. Menurut Martawijaya (2004) bahwa white pollard memiliki protein 11,99%, lemak 1,48%, karbohidrat 64,75%, abu 0,64%, serat kasar 3,75%, dan air 17,35%. Kandungan nutrisi tepung pollard cukup baik karena energi metabolisme yang terkandung sebesar 1.140 kkal/kg.

4.2.5.   Sumber  protein

            Sumber protein merupakan kelas nomor lima dalam klasifikasi internasional. Sumber protein adalah pakan yang mengandung kandungan protein yang lebih tinggi dari kandungan nutrisi lain dan nutrisi selain protein hanya sebagai pelengkap saja. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1991) yang menyatakan bahwa sumber protein adalah semua bahan pakan yang mempunyai kandungan protein 20% atau lebih dan berasal dari tanaman, hewan, ikan, dan milk. Menurut Agus (2007) bahwa sumber protein mengikutsertakan bahan pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18% atau dinding sel kurang dari 35% dan protein sebesar 20% atau lebih. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, bahan pakan yang termasuk sumber protein adalah biji bunga matahari, kacang kedelai, poultry meat meal, ampas tahu, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, kulit ari kedelai, biji kapas, biji jarak, tepung ikan, meat bone meal, biji kapuk, ampas kedelai, tepung bulu, tepung daun lamtoro, serta kacang tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (1997) yang menyatakan bahwa bahan pakan yang termasuk sumber protein yaitu bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kacang kedelai, tepung ikan, tepung bulu, serta tepung darah. Ichwan (2003) menambahkan bahwa pakan sumber protein diantaranya bungkil kelapa, ampas kecap, tepung daun lamtoro serta tepung ikan.

4.2.5.1.   Bungkil kelapa, Berdasarkan data hasil praktikum bungkil kelapa berbentuk tepung, berbau khas bungkil kelapa, bertakstur kasar, berasa pahit, dan berwarna cokelat tua serta termasuk dalam kelas nomor lima dalam klasifikasi internasional. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) menambahkan bahwa kandungan bungkil kelapa yaitu BK 86%, abu 6,4%, SK 14,4%, BETN 41,8% dan PK 21%. Rasyaf (1997) yang menyatakan bahwa bungkil kelapa mengandung protein sekitar 18%-26%, energi metabolismenya lebih dari 1600 kkal/kg.

4.2.5.2.   Tepung bulu, Berdasarkan data hasil praktikum tepung bulu berbentuk serbuk, berasa pahit, berbau menyengat, bertekstur halus, dan berwarna putih serta termasuk salah satu bahan pakan kelas nomer lima dalam klasifikasi internasional. Tepung bulu memiliki kandungan protein yang tinggi serta sering diberikan oleh ternak sebagai campuran ransum. Hal ini sesuai dengan pendapat Ichwan (2003) yang menyatakan bahwa kandungan protein pada tepung bulu memang sangat tinggi, kadarnya sekitar 85%. Martawijaya (2004) menyatakan bahwa tepung bulu memiliki kandungan protein sekitar 80%-90% dan metabolisme energinya sebesar 2.354 kkal/kg.

4.2.5.3.   Tepung ikan, Berdasarkan data hasil praktikum, tepung ikan berbentuk serbuk, bertekstur halus, berasa pahit, berbau amis, dan berwarna cokelat serta termasuk bahan pakan kelas nomor lima dalam klasifikasi internasional. Tepung ikan memiliki kandungan protein yang tinggi serta bahan pakan sumber protein yang baik untuk ternak. Hal ini sesuai dengan  pendapat Ichwan (2003) yang menyatakan bahwa tepung ikan merupakan salah satu sumber protein terbaik, mengingat kandungan asam amino esensialnya sangat tinggi. Martawijaya (2004) menambahkan bahwa kandungan gizi tepung ikan berupa protein 22,65%, lemak 15,38%, abu 26,65%, serat 1,80%, serta air sebanyak 10,78%.

4.2.6.   Sumber mineral

Sumber mineral merupakan bahan pakan kelas nomor enam dalam klasifikasi internasional, sumber mineral adalah semua bahan pakan yang mengandung banyak mineral  seperti Ca dalam tulang, zat besi (Fe) serta mineral lainnya. Ketersediaan sumber mineral di pasaran dibedakan menjadi dua jenis, yaitu jenis mineral produksi alam, dan mineral buatan (sintetik). Hal ini sesuai dangan pendapat Rasyaf (1992) bahwa penggunaan mineral buatan pabrik lebih terjamin dari pada produksi alam. Martawijaya (2004) menambahkan bahwa umumnya bahan–bahan pakan sumber mineral dikemas dalam bentuk premix. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan , bahan pakan yang termasuk dalam kelas sumber mineral antara lain,  tepung tulang, mineral mix, dan tepung kerang. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (1992) yang menyatakan bahwa bahan pakan  sumber mineral antaranya adalah tepung kerang, tepung tulang, dan lain-lain. Ichwan (2003) menambahkan bahwa pakan sumber mineral adalah tepung kerang, tepung tulang kapur (kalsium  karbonat), dicalcium fosfat (DCD) dan garam dapur.

4.2.6.1.   Tepung tulang, Berdasarkan data hasil praktikum tepung tulang berbentuk tepung, berteksur halus, berwarna putih, berasa pahit, dan berbau khas tulang serta termasuk bahan pakan kelas nomor enam dalam klasifikasi internasional. Tepung tulang merupakan bahan pakan yang terbuat dari tulang dan pada dasarnya merupakan pembentukan dari mineral, sehingga baik digunakan sebagai sumber mineral. Menurut Rasyaf (1997) menyatakan bahwa tepung tulang umumya mengandung kalsium 24%-28% dan phosphor antara 12%-15%. Hal ini sesuai dengan pendapat Ichwan (2003) yang menyatakan bahwa tepung tulang merupakan salah satu sumber mineral makro yang mengandung kalsium 24% dan fosfor 12%.

4.2.6.2.   Tepung kerang, Berdasarkan data hasil praktikum tepung kerang berbentuk serbuk, bertekstur kasar, berwarna krem, berasa pahit, dan berbau khas kerang serta termasuk salah satu bahan pakan kelas nomor enam dalam klasifikasi internasional. Tepung kerang pada dasarnya terbuat dari kulit kerang (cangkang kerang) yang terbentuk dari mineral mineral, sehingga tidak salah apabila tepung kerang merupakan salah satu pakan sumber mineral yang baik. Rasyaf (1997) menyatakan bahwa tepung kerang sifatnya memenuhi kebutuhan calcium  dan tepung kerang mengandung 38% calcium. Hal ini sesuai  pendapat  Ichwan (2003) bahwa tepung kerang merupakan sumber kalsium yang baik dan kadar kalsiumnya sekitar 38%.

4.2.6.3. Kapur, Berdasarkan data hasil praktikum tepung batu berbentuk serbuk, bertekstur kasar, berwarna hitam, berasa pahit, dan berbau khas batu serta termasuk salah satu bahan pakan kelas nomor enam dalam klasifikasi internasional. Tepung batu pada dasarnya terbuat dari batu yang mengandung mineral-mineral alami, sehingga tidak salah jika tepung batu termasuk dalam pakan sumber mineral. Menurut Ichwan (2003) bahwa tepung batu adalah salah satu bahan baku pakan sumber mineral yang digunakan dalam pakan ayam sebagai sumber kalsium karena kandungan kalasiumnya cukup tinggi sekitar 38% kadarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat  Agus (2007) yang menyatakan bahwa bahwa tepung batu adalah bahan pakan sumber kalsium mineral yang digunakan dalam ransum ternak.

4.2.7.   Sumber vitamin

            Pakan sumber vitamin yaitu pakan yang mengandung banyak vitamin, seperti vitamin A, B, C, D, E, dan K serta termasuk juga proses ensilasi dari ragi. Hal ini sesuai dengan pendapat Hartadi et al. (1990) yang menyatakan bahwa pakan yang mengandung vitamin termasuk proses ensilasi dari ragi. Hal ini diperjelas oleh pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa pakan sumber vitamin mengandung vitamin A, B1, B2, B6, B12, D2, D3, E, K, serta vitamin C.

            Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh bahan pakan yang mengandung vitamin atau masuk dalam kelas vitamin yaitu vit mix, yang mana vit mix merupakan campuran dari beberapa campuran vitamin-vitamin. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa pakan sumber vitamin mengandung beberapa vitamin yaitu vitamin A, D2, D3, B1, B2, B6, B12, E, K dan vitamin. Martawijaya (2004) menambahkan bahwa pakan sumber vitamin seperti topmix yang mengandung 12 macam vitamin, rhodiamix yang mengandung 12 macam vitamin.

4.2.7.1. Vitamin mix, Berdasarkan hasil praktikum, vitamin mix memiliki warna krem, rasa pahit, bentuk serbuk, tekstur kasar, bau obat, dan masuk dalam kelas pakan sumber vitamin. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa pakan yang mengandung vitamin, memiliki kandungan vitamin yang penting, yaitu A, D2, D3, B1, B2, B6, B12, E, K dan vitamin C. pendapat ini diperjelas oleh pendapat Martawijaya (2004) yang menyatakan bahwa pakan yang mengandung vitamin biasanya dijual di poultry shop dan sudah dikemas dalam bentuk premix seperti top mix yang mengandung 12 macam vitamin, dan rhodiamix yang juga mengandung 12 macam vitamin.

4.2.8.   Additive

            Pakan additive yaitu pakan yang digunakan untuk menambah produksi ternak dan biasanya bahan pakan nya campuran dari beberapa bahan pakan atau hanya sebagai tambahan agar menarik atau menambah nafsu makan pada ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa pakan additive yaitu zat-zat tertentu yang biasanya ditambahkan pada ransum seperti antibiotika, zat-zat warna, hormon dan obat-obatan lainnya. Pendapat ini diperjelas oleh pendapat Ichwan (2003) yang menyatakan bahwa bahan baku pakan additive antara lain premix, asam amino sintesis, pemacu pertumbuhan, koksidiostat, anti racun, antioksidan, perekat dan pemberi pigmen.

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

            Klasifikasi bahan pakan secara internasional dibagi menjadi delapan kelas, yaitu hijauan kering dan jerami, pastura, silase, sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin, dan additive. Contoh pakan hijauan kering dan jerami yaitu jerami padi dan klobot jagung. Contoh pastura yaitu rumput gajah dan gamal. Contoh silase yaitu silase rumput gajah dan silase rumput raja. Contoh sumber energi yaitu biji nangka dan ketela pohon. Contoh sumber protein yaitu kacang kedelai dan bungkil kelapa sawit. Contoh sumber mineral yaitu tepung tulang dan tepung kerang. Contoh sumber vitamin yaitu vit mix, dan contoh sumber additive yaitu premix dan pemacu pertumbuhan. Bahan pakan memiliki karekteristik yang berbeda-beda, baik dari rasa, bentuk, tekstur, dan bau. Bahan pakan memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda, sehingga penggunaannya berdasarkan kebutuhan ternak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus, A. 2007. Membuat Pakan Ternak Secara Mandiri. Citra Aji Pratama. Yogyakarta.

Hartadi, H., Soedomo, R., Allen, D. F. 1990. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia.. UGM Press. Yogyakarta

 

Ichwan, W. M., 2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta

 

Martawijaya, E. L., 2004. Panduan Beternak Itik Petelur Secara Intensif. PT Agromedia Pustaka. Jakarta

 

Rasyaf. M. 1992. Seputar Makanan Ayam Kampung. Kanisius. Yogyakarta.

Rasyaf. M. 1997. Penyajian Makanan Ayam Petelur.  Kanisius. Yogyakarta.

Tillman, A.D., Hartadi, H. Reksohadiprojo, S., Prawirokusumo, S., Lebdosoekojo, S. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar.Yogyakarta. Gajah Mada University Press.

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU NUTRISI TERNAK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

 

Kelompok XA

Adella Chin tya Maharani               23010111120037

Aisyah Nurhajah                               23010111120048

Pradhita Putri Raharjo                    23010111120049

Arif Nurrohman                               23010111200050

Yuli Miftasari                                    23010111120051

Imam Azis Setiawan                         23010111120052

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012

 LEMBAR PENGESAHAN

Judul                           :  LAPORAN PRAKTIKUM ILMU NUTISI TERNAK                        

Kelompok                   :  X (SEPULUH)

Kelas                           : A

Program Studi             :  S-1 PETERNAKAN

Tanggal Pengesahan    :      Juni 2012

 

 

 

Menyetujui,

 

 

Koordinator Praktikum                                               Asisten Pembimbing

Ilmu Nutrisi Ternak

 

 

 

Agung Subrata, S.Pt., M.P.                                          Andika Aji Prasetyo

NIP. 19701012 199802 1 001                                                NIM. 23010110110066

 

 


 

  1. 2.                  JUDUL

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU NUTRISI TERNAK

 

II.        TUJUAN

Tujuan dari praktikum adalah untuk  mengetahui saluran pencernaan dari ternak ruminansia, unggas dan pseudoruminansia, mengetahui kondisi pH dan juga konsistensi pada berbagi isi saluran pencernaan, mengetahui anatomi bagian dalam dari berbagai bagian saluran pencernaan, dan mengetahui berat dari setiap pencernaan.

III.       PROSEDUR

Prosedur yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu menyiapkan ternak yang akan disembelih kemudian menyembelih ternak yang akan diamati, lalu melakukan pembedahan ternak yang sudah disembelih sampai terlihat semua bagian dari saluran pencernaan. Selanjutnya melakukan pengamatan dan menggambar serta mendokumentasikan bagian – bagian saluran pencernaan pada posisi aslinya. Mengambil dan mengeluarkan seluruh saluran pencernaannya dan menimbang beratnya. Kemudian memisahkan setiap bagian organ pencernaan. Mengukur panjang dan berat dari setiap saluran pencernaan. Mengukur pH dari setiap isi saluran pencernaan.

 

 

IV.       HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.            Anatomi Saluran Pencernaan Domba.

Berdasarkan praktikum, diperoleh hasil sebagai berikut:

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

 

Ilustrasi 1. Gambar Organ Pencernaan Domba (Data Primer).

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

Keterangan :                                                                                    

  1. Mulut                                6. Abomasum
  2. Esophagus                         7. Usus halus
  3. Rumen                               8. Sekum
  4. Retikulum                         9. Usus besar
  5. Omasum                            10. Anus

 


 

     Tabel 1. Saluran Pencernaan Domba

Nama Sal. Pencernaan

pH

Panjang

Berat

 

 

cm

g

Mulut

Esophagus

7

125

Rumen

7

Retikulum

7

Omasum

7

Abomasum

5

Usus halus

7

13,75

Sekum

8

Usus besar

7

3,83

Anus

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

            Berdasarkan data praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa domba tergolong dalam ternak ruminansia. Saluran pencernaan domba meliputi mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, small intestinum (usus halus), sekum, kolon, serta anus. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2006) yang menyatakan bahwa hewan ruminansia seperti domba dan lembu saluran pencernaannya terdiri dari mulut, esophagus, lambung yang terdiri dari rumen, retikulum, omasum, abomasum, dilanjutkan di usus dan dikeluarkan melalui anus. Diperjelas oleh Sutama (2009) bahwa organ pencernaan ruminansia terdiri dari mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, usus kecil, sekum, usus besar dan anus.

            Mulut, organ pencernaan ruminansia pertama kali adalah mulut, di dalam mulut terjadi pencernaan mekanik dan di mulut terjadi pencampuran dengan saliva. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa mulut digunakan untuk menggiling makanan serta mencampurnya dengan saliva. Tillman et al. (1998) menambahkan bahwa enzim alfa amilase berfungsi sebagai pelicin untuk membantu penelanan.

Kerongkongan (esophagus), kerongkongan atau esophagus merupakan kelanjutan dari faring dan merupakan saluran maskular. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa makanan turun menuju lambung melewati esophagus. Esophagus juga sebagai pelicin untuk mempermudah masuk ke lambung. Ditambahkan oleh Frandson (1993) yang menyatakan bahwa esophagus terdiri dari dua lapisan yang saling melintas miring kemudian spiral dan akhirnya membentuk lapisan maskuler.

Rumen, rumen merupakan bagian pertama dari lambung, di dalam rumen terjadi proses fermentatif oleh mikroba rumen. Kontraksi A merupakan proses pengembalian makanan dari rumen ke mulut, kemudian dilakukan pengunyahan kembali dan penelanan kembali, lalu di dalam rumen tersebut terjadi pencernaan oleh mikroba rumen yang menghasilkan Volatil Fatty Acid (VFA). Kontraksi B merupakan proses yang terjadi di dalam rumen dimana protein yang terkandung dalam bahan pakan dicerna dan terjadi pelepasan gugus N yang dimanfaatkan oleh mikroba rumen sebagai nutrien bagi mikroba rumen itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa sekat antara rumen dan retikulum yang disebut rumen retikulum fold, berfungsi dalam proses memamah biak. Suthama (2009) menambahkan bahwa rumen merupakan tempat untuk mencerna serat kasar dan zat-zat pakan dengan bantuan mikrobia.

Retikulum, retikulum merupakan bagian lambung yang terletak di belakang jantung dan teksturnya berbentuk seperti sarang lebah. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa sekat antara rumen dan retikulum yang disebut rumen retikulum fold berfungsi dalam proses memamah biak. Frandson (1993) menambahkan bahwa retikulum adalah bagian bawah perut yang paling kranial yang di dalamnya diselaputi oleh membran mukosa yang membagi permukaan itu menjadi permukaan yang menyerupai sarang lebah.

Omasum, omasum merupakan bagian lambung setelah retikulum. Omasum tersusun atas lapisan-lapisan kasar.hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa omasum memiliki fungsi untuk menyerap air dari campuran cernaan pakan dari retikulum. Blakely dan Bade (1994) menambahkan bahwa omasum adalah bagian perut setelah retikulum yang mempunyai bentuk berlipat-lipat dengan struktur yang kasar.

Abomasum, abomasum merupakan bagian terakhir dari lambung ternak ruminansia yang merupakan perut sejati, karena didalam abomasum terjadi pencernaan secara enzim yaitu pencernaan protein dengan enzim pepsin. Hal ini sesuai dengan pendapat Fransdson (1993) yang menyatakan bahwa abomasum merupakan perut sejati dari lambung ternak ruminansia. Di dalam abomasum akan terjadi pencernaan protein. Sutama (2009) menambahkan bahwa di dalam abomasum terjadi pencernaan protein dengan hasil utama polipeptida dengan rantai panjang bervariasi dan asam amino.

Usus halus, usus halus merupakan tempat penyerapan berbagai nutrien. Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa bagian pertama usus halus adalah duodenum, kemudian bergabung dengan jejunum, dan bagian terakhir dari usus halus adalah ileum.

Usus buntu (caecum), usus buntu atau caecum yang merupakan suatu kantung buntu dan colon yang terdiri atas bagian-bagian yang naik, mendatar dan turun. Hal ini sesuai dengan Frandson (1993) yang menyatakan bahwa bagian yang turun akan berakhir di rectum dan anus. Di dalam sekum terjadi pencernaan fermentatif. Sebagian bahan-bahan yang dicerna yang kemudian masuk ke dalam usus besar zat-zat makanannya telah mengalami absorbsi di dalam usus halus. Terjadi perbedaan antara sekum ruminansia, non ruminansia, dan pseudoruminansia. Diperjelas oleh Tillman et al. (1991) bahwa pada ternak non ruminansia sekum terdiri dari dua saluran, ternak ruminansia sekum terdiri satu saluran dan pada ternak pseudoruminansia sekum terdiri dari satu saluran. Selain itu juga terjadi absorbsi air di dalam kolon.

Kolon, kolon merupakan tempat penyerapan air. Kolon dibagi menjadi 3 yaitu kolon, sekum, dan rektum. Rektum mempunyai panjang ± 30 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa pada ruminansia, usus besar terdiri atas sekum, kolon dan rektum. Sutama (2009) menambahkan bahwa ada 3 organ pokok yang terdapat di dalam usus besar yaitu kolon, sekum, dan rektum.

Anus, anus merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan. Materi yang tidak diserap akan dikeluarkan oleh anus berupa feses. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa materi yang tidak diserap akan turun berakhir di rektum dan anus. Sutama (2009) menambahkan bahwa materi yang keluar sebagai feses meliputi air, sisa–sisa pakan yang tidak tercerna, sekresi saluran pencernaan, sel–sel epitelium saluran pencernaan, garam–garam organik, bakteri dan produk–produk dari proses dekomposisi oleh mikrobia.

 

 

4.2.            Anatomi Saluran Pencernaan Ayam.

Berdasarkan praktikum, diperoleh hasil sebagai berikut:

 

 

 

 

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

 

 

Ilustrasi 2. Gambar Organ Pencernaan Ayam (Data Primer)

Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

Keterangan :

  1. Paruh                                 6. Duodenum              11. kloaka
  2. Esophagus                         7. Jejunum
  3. Tembolok                          8. Ileum
  4. Proventrikulus                   9. Seka
  5. Ventrikulus                       10. Usus besar

 

     Tabel 2. Saluran Pencernaan Ayam

Bagian Sal. Pencernaan

pH

Panjang

Berat

 

 

cm

g

Esophagus

1,0

1,0

Tembolok

2,0

2,0

Proventikulus

5

1,5

1,5

Ventrikulus

5

4,5

4,5

Usus Halus

7

7,5

7,5

Seca

8

0,5

0,5

Kolon

7

0,5

0,5

Kloaka

0,5

0,5

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan hasil bahwa ayam tergolong dalam ternak non ruminansia (unggas). Saluran pencernaan ayam meliputi mulut, esophagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, usus halus yang terdiri dari duodenum, jejunum, dan ileum, seka, usus besar dan kloaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa alat pencernaan terdiri atas saluran memanjang mulai dari paruh, esophagus, tembolok, proventrikulus, gizzard, usus halus dan kloaka. Rasyaf (2004) menambahkan bahwa saluran pencernaan pada ayam terdiri dari paruh, esophagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, empedal (gizzard), duodenum, jejunum, ileum, sekum, rektum, dan kloaka.

Paruh, paruh ayam merupakan saluran pencernaan tempat masuknya makanan. Paruh ayam tidak terdapat gigi sehingga makanan tidak dikunyah terlebih dahulu namun langsung masuk melalui esophagus. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa ayam tidak mempunyai gigi atau pinggiran paruh bergerigi sehingga pada paruh tidak terdapat pencernaan mekanik. Di dalam paruh menghasilkan saliva untuk membuat pakan mudah ditelan. Rasyaf (2004) menambahkan bahwa saliva paruh selain menghasilkan amilase juga digunakan untuk membasahi pakan agar mudah ditelan.

Esophagus, esophagus merupakan saluran lunak yang mengalami pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Esophagus berfungsi menghubungkan faring dengan tembolok dan melicinkan pakan. Hal ini sesuai denga pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa esophagus menghasilkan mukosa yang berfungsi melicinkan pakan menuju tembolok. Esophagus juga menghubungkan antara faring dengan paruh. Esophagus berhubungan langsung dengan tembolok dan didalam tembolok tidak terjadi proses pencernaan. Fungsi tembolok hanya untuk menyimpan makanan sementara. Rasyaf (2004) menambahkan bahwa fungsi utama tembolok adalah menyimpan pakan untuk sementara terutama saat ayam makan dalam jumlah yang banyak.

Tembolok, pakan dari tembolok menuju ke proventrikulus, didalam proventrikulus terjadi pemechan secara enzimatis  dengan bantuan enzim pepsin untuk mencerna proein. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa di proventrikulus mengekskresikan pepsinogen untuk memecah protein serta menghasilkan asam hidroklorin. Rasyaf (2004) menambahkan kelenjar perut atau proventrikulus mengekskresikan pepsinogen dan HCl untuk mencerna protein dan lemak.

Ventrikulus, ventrikulus merupakan perpanjangan dari proventrikulus dan didalam ventrikulus terdapat otot-otot untuk melumatkan makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa di dalam ventrikulus terjadi penggilingan makanan secara mekanik. Rasyaf (2004) menambahkan bahwa fungsi utama ventrikulus adalah melumatkan pakan dan mencampurnya dengan air menjadi pasta yang dinamakan dengan chyme.

Usus halus, usus halus merupakan tempat penyerapan sari-sari makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2006) yang menyatakan bahwa di dalam usus halus penyerapan sari-sari makanan akan terjadi secara sempurna. Usus halus mengandung pH yang tinggi sebesar 7. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa pH dalam usus halus adalah 7.

Seka, sekum pada ayam terdapat dua buah sehingga disebut seka. Di dalam seka terjadi pencernaan fermentatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa pada seka terjadi proses pencernaan secara fermentatif. pH yang dihasilkan adalah 7. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa di dalam seka pH-nya adalah 8 dan tidak terjadi proses sekresi enzim.

Usus besar, usus besar atau kolon merupakan tempat penyerapan air. Di dalam kolon terjadi kegiatan perombakan materi yang tidak tercerna dalam usus halus menjadi feses. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa usus besar tidak menghasilkan enzim. Rasyaf (2004) menambahkan bahwa pada usus besar terjadi perombakan partikel pakan yang tidak dicerna oleh mikroorganisme menjadi feses.

Kloaka, kloaka merupakan bagian akhir dari pencernaan ayam yang berfungsi mengeluarkan ekskreta, disebut kloaka karena organ pengeluaran ini merupakan organ yang mengelurkan zat hasil metabolisme dari organ pencernaan, dan organ reproduksi, sedangkan ekskreta merupakan hasil eksresi yang bercampur antara feses dan urin yang dikeluarkan melalui kloaka. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2004) yang menyatakan bahwa kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta karena urodeum dan koprodeum terletak berhimpitan. Menurut Frandson (1993) mnyatakan bahwa kloaka merupakan pertemuan atau muara bagi saluran pengeluaran sistem pencernaan, urinaria dan genital.

 

 

4.3.            Anatomi Saluran Pencernaan Kelinci

Berdasarkan praktikum, diperoleh hasil sebagai berikut:

 

 

 

 

 

1

2

3

4

5

6

7

8

 

 

Ilustrasi 3. Gambar Organ Pencernaan Kelinci (Data Primer).

Sumber:  Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

Keterangan:

  1. Mulut                                      5.  Sekum
  2. Esophagus                               6. Usus besar
  3. Lambung                                 7. Rektum
  4. Usus halus                               8. Anus

       

     Tabel 3. Saluran Pencernaan Kelinci

Nama Sal. Pencernaan

pH

Panjang

Berat

 

 

cm

g

Lambung

3

26,5

26,5

Usus halus

8

14,5

14,5

Secum

6

24,5

12,0

Usus besar

7

12,0

24,5

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Nutrisi Ternak, 2012.

            Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa saluran pencernaan kelinci terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus halus, sekum, usus besar, rektum dan aus. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa saluran pencernaan kelinci terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus halus, sekum, usus besar dan anus. Kelinci termasuk ternak pseudoruminansia yang memiliki lambung tunggal. Sekum kelinci mengalami perkembangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yag menyatakan bahwa herbivora monogastrik memiliki satu lambung dan terjadi perkembangan pada sekum dan kolon.

            Mulut, mulut pada ternak pseudoruminansia terdapat tiga alat yaitu gigi, lidah dan saliva. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa  makanan yang masuk ke dalam mulut dikunyah menggunakan gigi dengan bantuan lidah dan saliva. Di dalam mulut terjadi penggillingan makanan dengan bantuan lidah dan kelenjar saliva. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa pseudoruminansia terjadi mastikasi yaitu mengambil pakan, mengunyah dan mencampurnya dengan saliva.

            Esophagus, esophagus merupakan saluran maskuler. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa esophagus terdiri atas 2 lapisan yang saling melintas miring dan berbentuk spiral yang akhirnya membentuk lapisan maskuler. Esophagus merupakan alat penghubung antara mulut dengan lambung sebagai jalannya makanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa makanan menuju lambung melalui esophagus.

            Lambung, lambung merupakan tempat untuk mencerna makanan. Kelinci hanya memiliki lambung tunggal. Pencernaan sempurna pada kelinci terletak pada sekum sehingga sekum pada kelinci berkembang. Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1991) yang menyatakan bahwa lambung merupakan ruangan yang berfungsi sebagai tempat pencernaan dan penyimpanan pakan. Frandson (1993) menambahkan bahwa herbivora monogastrik memiliki satu lambung dan terjadi pekembangan pada sekum dan kolon.

            Usus halus, usus halus merupakan saluran pencernaan yang di dalamnya terjadi proses penyerapan nutrien. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa tempat utama pencernaan karbohidrat dan protein adalah di usus kecil. Usus halus dibagi menjadi tiga yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa di dalam duodenum merupakan bagian usus halus yang utama. Kemudian bergabung dengan jejunum. Bagian terakhir dari usus halus adalah ileum.

            Sekum, kelinci mengalami proses fermentasi di dalam sekum. Kelinci memiliki sekum yang besar namun tidak dapat mencerna bahan-bahan organik. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa sekum mempunyai fungsi seperti rumen yaitu fermentasi, serat kasar dan karbohidrat oleh organisme. Ditambahkan Frandson (1993) bahwa pembentukan sekum akan menyebabkan pembesaran pada kolon, tanpa sekum tidak ada coprophagy. Coprophagy umumnya dikeluarkan pada pagi dan malam hari, mengandung vitamin B, protein 28,8% dan 30% serat kasar. Sedangkan kotoran kerasnya dikeluarkan pada siang hari mengandung 9,2% protein dan 50,3% serat kasar

            Usus besar, usus besar atau kolon pada kelinci memiliki kolon besar dan kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1986) yang menyatakan bahwa kelinci memiliki dua kolon yaitu kolon besar dan kolon kecil. Frandson (1993) menambahkan bahwa bagian kolon yaitu yang pertama kolon besar dikenal dengan nama kolon ventral kanan, fleksura sternal, dan kolon ventral kiri dan kolon kecil.

            Anus, anus adalah bagian akhir dari pencernaan. Materi yang tidak diserap akan dikeluarkan oleh anus. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa materi yang tidak diserap akan turun berakhir di rektum dan anus. Feses yang dikeluarkan melalui anus akan dimakan kembali. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa tidak seperti hewan mamalia lain, kelinci memiliki kebiasaan memakan feses yang sudah dikeluarkan.


 

V.        SIMPULAN

            Berdasarkan hasil praktikum, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap hewan ternak memiliki organ pencernaan yang berbeda-beda. Ternak ruminansia merupakan ternak poligastrik yang memiliki organ lambung berjumlah empat yaitu rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Ayam merupakan hewan non-ruminansia monogastrik yang memiliki kelebihan dari organ jenis ternak lain yaitu memiliki tembolok, proventiculus, gizzard, serta dua organ usus buntu (seca). Kelinci merupakan hewan pseudoruminan yang memiliki kelebihan yaitu memiliki usus buntu (sekum) yang berkembang. Kelinci memiliki kebiasaan memakan feses yang dikeluarkan pada pagi hari yang disebut dengan coprophagy untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J. dan Bade, D. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Frandson, R. D., 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Isnaini, W., 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta.

Parakkasi, A., 1986. Monogastrik. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Rasyaf, M., 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Sutama, I. K., 2009. Panduan Lengkap Kambing dan Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: