LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

29 Jun

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

 

 

 

 

 

Disusun oleh  :

Kelompok IXA

Rahmah Dwi Shafrina         23010111120003

Raden Reza Prathama         23010111120008

Yunita Sri Melati P.              23010111120040

Crystalia Nidia Kinanti        23010111120046

Arif Nurrohman                   23010111120050

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2012`

BAB I

PENDAHULUAN

Mikrobiologi merupakan suatu telaah studi mengenai mikroorganisme. Mikroorganisme merupakan organisme hidup yang berukuran kecil yang hanya dapat dilihat secara mikroskopis. Mikroorganisme yang ada di alam terdiri dari berbagai macam jenis dan jumlahnya tidak terbatas. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak dimana saja dengan syarat cukup nutrien dan berkembang pada médium yang tepat. Medium dapat berupa médium cair, médium padat dan médium setengah padat. Mikroorganisme baik yang membentuk koloni atau tidak, saat berkembang pada suatu medium dapat diketahui jumlahnya dengan beberapa metode salah satunya adalah metode hitungan cawan. Mikroorganisme ada yang memiliki sifat menguntungkan dan ada juga yang bersifat merugikan, untuk mengetahuinya dapat dilakukan serangkaian pengujian melalui pewarnaan mikroorganisme.

Tujuan dari praktikum mikrobiologi ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan medium dan larutan pengencer, cara sterilisasi, menghitung jumlah bakteri dengan metode hitungan cawan dan cara pewarnaan gram positif maupun negatif. Manfaat dari praktikum mikrobiologi ini adalah mengetahui cara pembuatan medium dan larutan pengencer, cara sterilisasi, menghitung jumlah bakteri dengan metode hitungan cawan serta mengetahui cara pewarnaan gram positif maupun negatif.


BAB II

                                             TINJAUAN PUSTAKA            

2.1.      Sterilisasi

Sterilisasi adalah proses yang menghancurkan semua bentuk kehidupan. Suatu benda yang steril, dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme hidup. Suatu benda atau substansi hanya dapat steril atau tidak sreril tidak akan mungkin setengah steril atau hamper steril (Pelozar, 1988). Sterilisasi yaitu suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan didalam suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi secara umum dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sterilisasi secara fisik yang meliputi pemanasan sinar ultraviolet, sinar X dan sebagainya. Sterilisasi dengan pemanasan terdapat empat cara yaitu dengan cara pemijaran, sterilisasi dengan udara panas, sterilisasi dengan menggunakan uap air panas, sterilisasi dengan menggunakan uap panas yang bertekanan. Sterilisasi yang selanjutnya adalah sterilisasi secara kimia. Sterilisasi ini menggunakan disinfektan, larutan alkohol, larutan formalin (Fardiaz, 1992).

2.1.1.   Sterilisasi kering

Sterilisasi kering digunakan dalam sterilisasi alat-alat gelas dilaboratorium, dimana digunakan oven dengan suhu 160-1800C selama 1,5-2 jam dengan sistem udara statis. Praktik menggunakan oven yang dilengkapi dengan sirkulsai udara panas, diperlukan waktu setengahnya karena aliran udara panas kealat-alat gelas akan lebih efisien (Fardiaz, 1992).  Sterilisaisi kering dapat dilakukan dengan cara pemijaran, jilatan api, dan tanur uap panas. Pemijaran diterapkan pada ose ujung-ujung pinset dan sudip logam. Jilatan apai diterapkan terhadap skalpel, jarum, mulut tabung biakan, kaca objek, dan kaca penutup. Tanur uap panas digunakan dengan suhu 160-1650C selama satu jam. Tanur uap panas diterapkan terhadap alat-alat kering tebuat dari kaca seperti tabung reaksi, punggan petri, labu, pipet, pinset, skalpel, gunting kapas hapus tenggorok, alat suntik dari kaca, juga diterapkan pada bahan-bahan kering dalam tempat-tempat tertutup, bahan serbuk, lemak dan minyak (Irianto, 2010).

2.1.2.   Sterilisasi basah

Sterilisasi dengan menggunakan pemanasan basah, dapat dengan beberapa cara perebusan, pemanasan dengan tekanan, tindalisasi dan pasteurisasi. Perebusan dapat didalam air mendidih dengan suhu 1000C selama beberapa menit. Pemanasan dengan tekanan dapat dilakukan dengan menggunakan autoklaf untuk membunuh bakteri yang paling tahan panas. Spora yang paling tahan panas akanmati pada suhu 1210C selama 15 menit. Tindalisasi dilakukan dengan cara memanaskan medium atau larutan menggunakan uap selama satu jam tiap hari utuk tiga hari berturut-turut. Waktu inkubasi diantara dua proses pemanasan sengaja diadakan supaya spora dapat bergerminasi menjadi sel vegetatif sehingga mudah dibunuh pada pemansan berikutnya. Pasteurisasi biasanya diakukan pada terhadap susu. Proses ini dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh streptokoki grup A. Pasteurisasi dilakukan pada suhu 650C selama 30 menit atau 720C selama 15 detik. Setelah pasteurisasi, produk harus didinginkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang masih hidup (Fardiaz, 1992). Uap mengalir bebas diguakan dalam tempat yang tidak tertutup rapat yang dapat menahan uap itu tanpa tertekan. Air mendidih dan uap bebas tidak perbnah mencapai suhu lebih dari 1000C (2120F). Uap bebas ini digunakan untuk mensterilisasi dengan menggunakan uap pada suhu 1000C yang dialirkan pada benda yang disterilkan untuk beberapa menit berkali-kali (tiga sampai empat kali) dengan selang waktu 24 jam (Irianto, 2010).

 

2.2.      Medium dan Larutan Pengencer

Medium adalah bahan yang mengandung campuran nutrisi yang bermanfaat untuk menumbuhkan mikroba. Medium ada yang alami dan ada yang merupakan buatan manusia, contoh medium buatan manusia adalah medium cair, medium kental (padat) dan medium setengah padat. Medium cair digunakan untuk menumbuhkan bakteri dan juga fermentasi. Medium padat digunakan untuk menumbuhkan mikrobia pada permukaan. (Dwidjoseputro, 1994). Larutan pengencer merupakan larutan yang digunakan untuk mengencerkan larutan dengan perbandingan pengenceran tertentu. Caranya adalah dengan menempatkan pada tabung reaksi kemudian menentukan berapa perbandingan yang digunakan karena tiap perbandingan memiliki ketentuan sendiri-sendiiri. Pengenceran dengan larutan pengencer diperlukan agar nantinya diperoleh pertumbuhan bakteri yang tidak konfluen hingga koloninya mudah untuk dihitung (Sandjaja, 1992).


2.2.1.   Medium Nutrient Agar (NA)

            Medium Nutrient Agar (NA) masuk kedalam medium khusus karena dibuat sebagai tempat menumbuhkan mikroba yang sudah diketahui komposisi pembuatannya. NA di buat dengan komposisi agar – agar yang sudah dipadatkan sehingga NA juga bisa disebut dengan nutrient padat yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri. Fungsi agar – agar hanya sebagai pengental namun bukan zat makanan pada bakteri, agar dapat mudah menjadi padat pada suhu tertentu. Medium Nutrient Agar adalah salah satu medium padat yang memiliki komposisi yaitu agar – agar yang telah di panaskan dan mencair dengan suhu 950C (Dwidjoseputro, 1994). Agar–agar adalah zat pengental dan bukan sebagai sumber makanan bagi bakteri. Agar–agar digunakan untuk membuat medium padat, agar larut dan menjadi padat pada suhu 450C. NA lebih bersifat umum sehingga mikroba banyak tumbuh pada media ini (Amelia et al, 2005). 

2.2.2.   Medium Acidified Potato Dextrose Agar (APDA)

            Medium APDA adalah salah satu dari medium untuk proses menumbuhkan mikrobia. APDA merupakan medium yang berkomposisi kentang, dextrose, dan asam tartarat. APDA tidak bersifat umum seperti NA karena tidak semua mikrobia dapat tumbuh pada medium ini.  Medium APDA termasuk ke dalam medium yang padat sehingga dapat membentuk koloni mikroba yang dapat dilihat dan dihitung, jika diinokulasikan di dalam medium APDA, bakteri anaerob akan tumbuh mengelompok pada dasar medium, bakteri yang anaerob fakultatif akan tumbuh tersebar di seluruh medium, bakteri mikroaerofil akan tumbuh mengelompok sedikit di bawah permukaan medium, sedangkan bakteri aerob akan tumbuh pada permukaan medium (Dwidjoseputro, 1994). Medium ini digunakan untuk isolasi bakteri, hasilnya dinyatakan dalam jumlah koloni yang didapatkan nantinya. Medium ini sangat diperlukan untuk mempelajari ciri-ciri koloni, sifat-sifat biokimia, morfologi, reaksi pengecatan, reaksi imunologi dan ketentraman bakteri terhadap zat antibakteri. Pembuatan medium APDA dapat dilakukan dengan serangkaian cara mulai dari pembuatan PDA hingga pencampurannya dengan asam tartarat (Irianto, 2010).

2.3.      Metode Hitungan Cawan

Prinsip dari metode hitungan cawan adalah jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata telanjang tanpa menggunakan mikroskop. Metode hitungan cawan adalah cara paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik (Fardiaz, 1992). Metode penghitungan jumlah mikrobakteria dipengaruhi oleh jenis medium, waktu inkubasi dan cara menghitung koloni yang harus teliti (Sandjaja, 1992).


2.3.1.   Pengenceran

            Bahan pangan dalam metode hiutungan cawan diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel jasad renik per ml atau per gram atau per cm apabila pengambilan contoh dilakukan pada permukaan. Memerlukan perlakuan pengencernaan sebelum ditumbuhkan agar di dalam cawan petri, setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik diantara 30 sampai 300 koloni (Fardiaz, 1992). Pengencernaan biasanya dilakukan secara desimal yaitu 1:10, 1:100, 1:000 dan seterusnya, atau 1:100, 1:10000, 1:1000000 dan seterusnya. Larutan yang digunakan untuk pengencernaan dapat berupa larutan bufer fosfat, 0,85% NaCI, atau larutan Ringer (Sandjaja, 1992).

2.3.2.   Metode Tuang (Pour Plate)

Cara pemupukan dalam metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu metode tuang dan metode permukaan. Sejumlah contoh dalam metode tuang dari pengenceran yang dikehendaki dimasukkan ke dalam cawan petri kemudian ditambah agar cair steril yang telah didinginkan pada suhu 47-50oC dengan jumlah yang dikehendaki dan digoyangkan supaya contoh menyebar rata (Fardiaz, 1992). Cara membuat medium agar cair dalam tabung reaksi, didinginkan sampai sekitar 45ºC, disuntikkan sesaat sebelum dituangkan ke dalam cawan petri steril. Pertumbuhan ini akan mengembangkan seluruh media di piring baik di permukaan dan di kedalaman agar-agar (Sandjaja, 1992).


2.4.      Pewarnaan Gram

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri berdasarkan morfloginya bentuk bakteri dapat dibagi atas tiga golongan yaitu basil, kokus dan spiral. Basil (bacillus) dan bakteri lactobacillus ini berbentuk batang, bervariasi panjang dan ramping sedangkan Eschericia coli memiliki bentuk coccus dan merupakan tipe bakteri gram negatif karena termasuk dalam bakteri pathogen. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan (Pelczar, 1988). Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut berfungsi juga untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan atau pewarnaan pada bakteri (Irianto, 2005). Cara untuk melihat bakteri dengan jelas, tubuhnya perlu di isi dengan zat warna, pewarnaan ini disebut pengecatan bakteri. Bakteri berasal dari suatu koloni yang mempunyai warna tertentu, maka untuk memperlihatkan bagian-bagian sel itu harus diperlukan pewarnaan. Pewarnaan gram memilahkan bakteri menjadi gram positif dan negatif. Pewarnaan gram positif apabila yang mempunyai zat warna asli yaitu ungu jika ditetesi dan gram positif termasuk lactobacillus lebih peka terhadap fenol, penisilin, dan resisten terhadap streptomisinin sedangkan gram negatif termasuk bakteri Eschericia coli apabila diuji pewarnaan akan berwarna merah dan yang demikian ini dinamai gram variabel. (Dwijoseputro, 1994).


BAB III

METODOLOGI

            Praktikum Mikrobiologi dengan materi sterilisasi dan pembuatan medium dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Mei 2012 pukul 13.00-19.00 WIB dan hari Kamis 17 Mei 2012 pada pukul 11.00 – 13.30 WIB dengan materi metode hitung cawan dan pewarnaan gram di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.      Materi                        

            Materi dalam praktikum mikrobiologi adalah timbangan yang berfungsi untuk menimbang bahan yang dipakai unruk reaksi, erlenmeyer untuk mencampurkan bahan sampel, “waterbath” yang berfungsi sebagai alat pemanas, beker glass berfungsi untuk mendinginkan alat yang sudah di sterilisasi, gelas ukur berfungsi untu mengukur berapa banyak sampel yang akan digunakan, pisau berfungsi untuk memotong kentang untuk medium, kain saring berfungsi untuk menyaring filtrat kentang, oven berfungsi untuk alat memanaskan dalam sterilisasi kering, autokraf berfungsi sebagai alat pemanas dalam sterilisasi basah, cawan petri berfungsi untuk tempat menumbuhkan mikroba, pipet hisap sebagai alat untuk pengenceran, tabung reaksi sebagai wadah untuk mencapur bahan, bunsen untuk pemanas saat pewarnaan gram, kaca objek untuk alat pewarnaan gram, loop sebagai alat untuk memperbesar koloni agar bisa dihitung, mikroskop sebagai alat untuk melihat perbesaran hasil pewarnaan gram serta Quebec Colony Counter berfungsi untuk menghitung koloni bakteri yang tumbuh pada media. Bahan yang digunakan dalam praktikum mikrobiologi adalah nutrient agar, kentang, detrose, agar, aquades, asam tartarat, kertas pembungkus, kapas, alkohol alumunium foil, sampel bahan yang akan dihitung (mikroba/ jamur/ mikroba), medium NA dan APDA, larutan gram (A, B, C, D), dan biakan bakteri.

3.2.      Metode

3.2.1.   Sterilisasi

3.2.1.1. Sterilisasi kering, menyiapkan pipet, cawan petri, erlemeyer serta alat gelas lainnya. Membasahi kapas lalu membersihkan cawan petri dengan kapas tersebut kemudian membungkus sepasang cawan petri dengan kertas pembungkus (satu pasang tiap bungkus). Membersihkan pipet hisap dan menyumbat pangkal pipet dengan kapas, kemudian membungkus beberapa pipet dengan menggunakan kertas menutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil dengan rapat. Memasukan cawan petri, pipet dan erlenmeyer kedalam oven selama 2 jam pada suhu 160oC atau 1 jam pada suhu 170oC. Setelah selesai keluarkan pipet, cawan petri, dan Erlenmeyer dari oven, tunggu hingga dingin sebelum digunakan.

3.2.1.2. Sterilisasi basah, memasukan medium yang akan disterilisasi ke dalam Erlenmeyer atau tabung serta larutan pengencer dalam tabung reaksi, kemudian menutup rapat dengan kapas. Memasukan Erlenmeyer dan tabung reaksi kedalam autoklaf, lalu menutup autoklaf dengan rapat. Menyalakan autoklaf, menunggu hingga manometer dan thermometer menunjukan tanda sterilisasi atau pada suhu 121oC dengan tekanan 2 atm, mendiamkan selama 15 menit.

3.2.2.   Medium dan Larutan Pengencer

3.2.2.1. Nutrient Agar (NA), Menimbang nutrient agar (NA) sesuai kebutuhan yaitu 2,3 gr agar dengan larutan aquades 100 ml dan mengaduk atau mencampur menggunakan pengaduk magnetic stirrer dan melakukan sterilisasi menggunakan autoklaf.

3.2.2.1. Acidified Potato Dextrose Agar (APDA), Mengupas kentang dengan menggunakan pisau tajam, mengiris kentang tersebut dengan ukuran 1x1x1 cm. Menimbang kentang dengan tepat sebanyak 500 g. Memasukan kentang ke dalam beker glass, kemudian menambahkan 1000 ml aquades, menutup beker glass dengan alumunium foil serapat mungkin. Memanaskan di dalam waterbath selama 30 menit. Mengambil filtrat dengan cara menyaringnya menggunakan kain saring. Setelah filtrat terkumpul mengukur volume untuk membuat medium PDA dengan komposisi 100 ml filtrate kentang, 2 gr dextrose, 2 gr agar. Selanjutnya membuat medium APDA terlebih dahulu menyiapkan larutan asam tartarat 10%. Menyeterilkan medium PDA dengan larutan asam tartarat 10% dalam autoklaf pada suhu 1210C, 2 atm selama 5 menit. Setelah menyeterilkan memasukan medium PDA dan larutan asam tartarat 10% ke dalam inkubator bersuhu 500C. Setelah keduanya mencapai suhu tersebut menambahkan dengan pipet ukur steril larutan asam tartarat 10% kedalam medium PDA secara aseptis. Maka medium yang dihasikan tersebut adalah medium APDA. (setiap 100 ml membutuhkan 10 ml larutan asam tartarat 10%. pH medium APDA berkisar 3,5 – 4,0)

3.2.3.   Metode Hitungan Cawan

3.2.3.1. Metode pengenceran, bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel mikroba per ml, per gr, atau per cm memerlukan perlakuan pengenceran sebelum menumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik adalah diantara 30 – 300 koloni. Pengenceran biasa dilakukan secara desimal yaitu 1 : 10, 1 : 100 dan seterusnya.

3.2.3.2. Cara menghitung koloni, memilih dan menghitung cawan yang mengandung jumlah koloni antara 30 – 300. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu dapat dihitung menjadi satu koloni karna dianggap sebagai koloni besar. Suatu deretan koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni.

3.2.4.   Pewarnaan Gram

Membuat kultur cair dengan menyebarkan satu atau lebih loop kultur cair pada kaca objek sehingga mencapai diameter kira-kira 1 – 1,5 cm2 mengeringkan/ fiksasi dengan menyalakan api kecil. Membuat kultur padat dengan memberi 1 – 2 tetes air pada kaca objek kemudian mengambil sejumlah kecil mikroba menggunakan ujung loop lalu menyebarkan pada air di atas kaca objek sehingga mencapai diameter 1 – 1,5 cm2. Mengeringkan/ fiksasi dengan nyala api kecil. Meneteskan pewarna violet kristal (gram A) diatas preparat mendiamkan selama 1 menit. Membilas dengan aquades dengan cara memegang kaca objek pada posisi miring. Membuang sisa air yang tertinggal, dan menetesi menggunakan larutan lugol (gram B) selama 2 menit. Membilas dengan aquades, kemudian menghilangkan warna dengan gram C sampai warna biru tidak luntur lagi. Membilas kembali dengan aquades, kemudian menetesi dengan safrani selama 30 detik. Membilas dengan air bersih dan mengeringkan dengan  menggunakan tisu. Memeriksa dibawah mikroskop hingga perbesaran 100 x. Larutan mengandung gram positif akan berwarna biru-ungu sementara jika mengandung gram negattif akan berwarna merah muda.

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Sterilisasi

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, alat – alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum harus benar – benar steril.  Sterilisasi kering biasanya dilakukan dengan pensterilan alat – alat praktikum. Gelas, pipet, cawan petri, dan erlenmeyer yang sudah bersih disterilkan di dalam oven. Sterilisasi basah biasanya dilakukan dengan pensterilan medium yang dimasukkan ke dalam erlenmeyer kemudian memasukkan dalam autoklaf. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1994), bahwa alat – alat dari gelas dimasukkan di dalam oven kering selama 2 – 3 jam pada temperatur 160o – 170o. Alat – alat yang belum bersih dan belum kering tidak boleh dimasukkan dalam oven kering. Sterilisasi basah dapat dilakukan dengan menggunakan air, yang dimanfaatkan adalah uap airnya dalam proses sterilisasi. Sterilisasi basah dilakukan dengan autoclave atau sterilisator uap dan biasanya sterilisasi basah digunakan untuk sterilisasi medium. Ditambahkan pula oleh Fardiaz (1992), yang menyatakan bahwa  sterilisasi basah dapat dilakukan dengan menggunakan air, yang dimanfaatkan adalah uap airnya dalam proses sterilisasi. Sterilisasi basah dengan tekanan dilakukan dengan alat autoclave untuk membunuh spora bakteri yang paling tahan panas pada suhu 121 oC selama 15 menit. Kekuatan membuat air panas disebabkan pada waktu kondensasai, pada bahan yang disterilisasi dilepaskan sejumlah besar panas latent. Pengerutan yang disebabkan oleh kondensasi menyebabkan penyerapan uap air baru yang berarti uap air banyak panas yang diserap.

4.2.      Medium dan Larutan Pengencer

4.2.1.   Nutrient Agar (NA)

            Medium adalah bahan yang mengandung campuran nutrisi yang bermanfaat untuk menumbuhkan mikroba. Medium Nutrient Agar (NA) masuk kedalam medium khusus karena di buat sebagai tempat menumbuhkan mikroba yang sudah diketahui komposisi pembuatannya. NA di buat dengan komposisi agar – agar yang sudah dipadatkan sehingga NA juga bisa disebut dengan nutrient padat yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri. Fungsi agar – agar hanya sebagai pengental namun bukan zat makanan pada bakteri, agar dapat mudah menjadi padat pada suhu tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan bahwa medium Nutrient Agar adalah salah satu medium padat yang memiliki komposisi yaitu agar – agar yang telah di panaskan dan mencair dengan suhu 950C. Agar – agar adalah zat pengental dan bukan sebagai sumber makanan bagi bakteri. Menurut pendapat Amelia., et all (2005) yang menyatakan bahwa agar – agar digunakan untuk membuat medium padat, agar larut dan menjadi padat pada suhu 450C. NA lebih bersifat umum sehingga mikroba banyak tumbuh pada media ini karena stuktur dari nutrient agar itu sesuai dengan tempat mikroba tumbuh yaitu suhu dan kelembapan nya sehingga mikroba dapat cepat tumbuh pada kondisi tersebut.


4.2.2.   Acidified Potato Dextrose Agar (APDA)

            Medium APDA adalah salah satu dari medium untuk proses menumbuhkan mikrobia. APDA medium yang berkomposisi kentang, dextrose, dan asam tartarat. APDA tidak bersifat umum seperti NA karena tidak semua mikrobia dapat tumbuh pada medium ini.  Medium APDA termasuk ke dalam medium yang padat sehingga dapat membentuk koloni mikroba yang dapat di lihat dan dihitung. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dwidjosepuro (1994), bahwa medium APDA tidak bersifat umum seperti medium padat lainnya karena tidak semua bakteri dapat tumbuh pada medium ini.  Percobaan dengan medium APDA dilakukan dengan menambahkan asam tartarat pada PDA setelah itu medium digunakan untuk isolasi bakteri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Irianto, 2010), yang menyatakan bahwa medium digunakan untuk isolasi bakteri, hasilnya dinyatakan dalam jumlah koloni yang didapatkan nantinya. Dan pembuatan medium APDA dapat dilakukan dengan serangkaian cara mulai dari pembuatan PDA hingga pencampurannya dengan asam tartarat.

4.3.      Metode Hitungan Cawan (Total Plate Count)

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Hasil Perhitungan Bakteri dengan Metode Hitungan Cawan

Sampel

Pengenceran

SPC

10-1

10-2

10-3

10-4

10-5

10-6

APDA

71

57

41

7,1 x 102

NA

1304

1042

884

1,3 x 107

Sumber : Data Primer Praktikum Mikrobiologi, 2012.

Berdasarkan hasil praktikum, diketahui bahwa metode hitungan cawan perhitungan bakteri dapat dilihat langsung tanpa mikroskop dengan melihat koloni-koloni yang terbentuk pada medium agar tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Fardiaz (1992) yang menyatakan bahwa metode hitungan cawan memiliki prinsip yaitu jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembang membentuk koloni dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa mikroskop. Hasil praktikum pada metode hitungan cawan yang dilakukan pada sampel NA diperoleh data yang tidak normal karna beberapa macam faktor misalnya faktor medium yang digunakan, waktu inkubasi yang kurang tepat dan perhitungan koloni yang tidak benar yang terjadi pada sampel PDA, tetapi pada sampel NA diperoleh data yang normal karena medium yang digunakan sesuai untuk tempat pertumbuhan mikroba. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sandjaja (1992) yang menyatakan bahwa penghitungan jumlah mikrobakteria sangat dipengaruhi oleh jenis medium, lamanya waktu inkubasi dan cara menghitung koloni yang harus teliti.

 

 

 

 

4.4.      Pewarnaan Gram

Berdasarkan praktikum mengenai pewsarnaan gram dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Ilustrasi 1. Pewarnaan Gram Lactobacillus acidophilus

 

 

 

 

Sumber: Data Primer Praktikum Mikrobiologi, 2012.

Sumber: google.com/

lactobacillus_acidophilus

                                                     Warna  : Ungu

                                                     Bentuk : Basil/batang

                                                     Koloni :

Gram  : Positif

Pewarnaan gram pada Lactobacillus acidophilus didapatkan warna ungu dan berbentuk basil. Hal ini sesuai dengan pendapat Pelczar (1988), bahwa bakteri berdasarkan morfloginya bentuk bakteri dapat dibagi atas tiga golongan yaitu basil, kokus dan spiral. Basil (bacillus) dan bakteri lactobacillus acidophilus berbentuk batang, bervariasi panjang dan ramping. Pewarnaan gram memilahkan bakteri menjadi gram positif dan negatif, hal sesuai dengan pendapat Dwijoseputro (1994) yang menyatakan bahwa pewarnaan gram positif adalah yang mempunyai zat warna asli yaitu ungu jika ditetesi dan gram positif termasuk lactobacillus lebih peka terhadap fenol, penisilin, dan resisten terhadap streptomisinin.

Ilustrasi 2. Pewarnaan Gram Escherichia coli

                                

 

 

 

Sumber: Data Primer Praktikum Mikrobiologi, 2012.

Sumber : google.com/ e_coli

                                                     Warna  : Merah

                                                     Bentuk : Coccus

                                                     Koloni :

                                                       Gram : Negatif

Pewarnaan gram pada Escherichia coli didapatkan warna merah dan berbentuk coccus. Bakteri Escherichia coli termasuk dalam bakteri gram negatif. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan bahwa gram negatif termasuk bakteri Escherichia coli apabila diuji pewarnaan akan berwarna merah dan yang demikian ini dinamai gram variabel. Hal tersebut dikuatkan oleh Pelczar (1988), bahwa bakteri Escherichia coli memiliki bentuk coccus dan merupakan tipe bakteri gram negatif karena termasuk dalam bakteri pathogen.

 

BAB V

KESIMPULAN

5.1.      Kesimpulan

Berdasarkan praktikum Mikrobiologi dapat disimpulkan bahwa sterilisasi dibagi menjadi dua yaitu sterilisasi kering dan sterilisasi basah. Sterilisasi kering biasanya digunakan untuk menyeterilkan alat – alat yang terbuat dari kaca,sementara untuk sterilisasi kering digunakan untuk menyeterilkan bahan – bahan untuk medium. Mikrobia dapat dikembangbiakkan pada medium NA maupun APDA. Hasil hitungan cawan pada sampel NA diperoleh data yang tidak normal karna beberapa macam faktor misalnya faktor medium yang digunakan, waktu inkubasi yang kurang tepat dan perhitungan koloni yang tidak benar, tetapi pada sampel NA diperoleh data yang normal karena medium yang digunakan sesuai untuk tempat pertumbuhan mikroba. Hasil pewarnaan bakteri diketahui bahwa Lactobacillus acidophilus diketahui bentuknya bacillus dan merupakan gram positif sedangkan bakteri Escherichia coli berbentuk coccus merupakan bakteri gram negatif.

5.2.      Saran

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan, terdapat beberapa saran antara lain agar lebih berhati-hati dalam menggunakan alat-alat laboratorium, lebih teliti dalam penghitungan bakteri agar hasilnya lebih valid.

 


DAFTAR PUSTAKA

Amelia,G., R, et. al. 2005. Isolasi dan Pengujian Aktivasi Enzim Amilase dan Protease Mikroba dari Terasi Asal Kalimantan Timur. Bogor: Pusat Penelitian Biologi.

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi.Jakarta: Djambatan.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Irianto, K. 2010. Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid I. Bandung: Yrama Widya.

Pelczar, M.J. dan E.C.S. Chan.1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta UI Press.

Sandjaja, B. 1992. Isolasi dan Identifikasi Mikrobakteria. Jakarta: Widya Medika.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: